Jonan Minta PLN Promosikan Kompor Listrik untuk Gantikan LPG

Kompas.com - 18/09/2018, 22:07 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat menghadiri halal bihalal di gedung Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (22/6/2018). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat menghadiri halal bihalal di gedung Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (22/6/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, pemerintah berharap adanya kenaikan konsumsi listrik perkapita nasional menjadi 1.200 kilo watt hour (kWh) pada tahun 2019.

Hingga semester I 2018, konsumsi listrik perkapita nasional baru mencapai sekitar 1.050 kWh perkapita.

"Estimasi dari konsumsi listrik perkapita sekarang mungkin masih sekitar 1.050 kWh per kapita, dan harapannya itu bisa naik menjadi 1.200 kWh per kapita. Seperti yang dikatakan Bapak Wakil Presiden, bahwa ini kehidupan makin modern, listriknya makin lama makin besar," ujar Jonan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/7/2018).

Sejalan dengan target tersebut, Pemerintah berencana menerbitkan peraturan tentang kendaraan listrik, yang salah satu tujuannya untuk mendongkrak konsumsi listrik.

Selain itu, Jonan juga mengimbau kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mempromosikan penggunaan kompor listrik kepada pelanggan baru atau pelanggan yang ingin mengonsumsi listrik yang lebih tinggi.

Pemerintah kini mendorong penggunaan kompor listrik, supaya selain dapat meningkatkan konsumsi listrik, juga dapat mengurangi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

"Pemerintah mendorong penggunaan kompor listrik, supaya konversi dari kompor LPG. Kan kompor listrik, kompor induksi itu sekarang murah sekali. Harganya saya kira Rp 300-500 ribu, mestinya terjangkau, kalau tidak terjangkau, ditawarkan dengan sistem cicilan oleh PLN, sehingga bisa mengurangi impor LPG nasional," ucap dia.

Jonan menambahkan, saat ini subsidi listrik yang dianggarkan pemerintah masih jauh lebih kecil daripada subsidi LPG 3 kilogram, sehingga PLN harus mengupayakan konversi kompor LPG menjadi kompor listrik.

"Subsidi listrik, kalau tidak termasuk carry forward yang tahun sebelumnya itu kira-kira Rp 50 triliun lebih, setahun. Subsidi LPG 3 kg tahun ini Rp 67 triliun, jauh lebih besar daripada subsidi listrik. Ini yang harus diupayakan oleh teman-teman PLN sebagai operator untuk mengonversi kompor LPG menjadi kompor listrik," kata Jonan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X