KILAS EKONOMI

Kemenhub Pertimbangkan “Antilock Brake System” Masuk Regulasi

Kompas.com - 26/09/2018, 08:35 WIB
Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion(FGD) terkait pembahasan sistem keselamatan pada kendaraan bermotor berupa Antilock Brake System (ABS) dan Electronic Stability Control (EBS). KOMPAS.com/AUZI AMAZIADirektorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion(FGD) terkait pembahasan sistem keselamatan pada kendaraan bermotor berupa Antilock Brake System (ABS) dan Electronic Stability Control (EBS).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menggelar kegiatan focus group discussion (FGD) terkait pembahasan sistem keselamatan pada kendaraan bermotor berupa Antilock Brake System (ABS) dan Electronic Stability Control (ESC).

Pembahasan yang bertujuan untuk mendukung Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) itu berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (24/9/18)

Diskusi berfokus pada standar keamanan kendaraan, terutama roda dua, untuk mendukung salah satu aspek keselamatan di jalan yaitu kendaraan yang berkeselamatan (safer vehicle).

Berdasarkan paparan yang berlangsung pada FGD, baru Malaysia di antara negara-negara ASEAN yang mengadaptasi peraturan keamanan menggunakan ABS pada seluruh kendaraannya.

Baca juga: Ke Pekanbaru, Menhub Kampanyekan Keselamatan Berkendara bagi Anak Muda

Direktur Pembinaan Keselamatan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Risal Wasal mengatakan, target FGD untuk memastikan apakah ABS laik fungsi sebagai alat keselamatan berkendara di Indonesia.

“Kami sedang mempertimbangkan dan memastikan kenapa negara lain mewajibkan (ABS), kenapa Indonesia belum,” ujar Risal, Senin.

Pada dasarnya penggunaan ABS di kendaraan berguna untuk mencegah ban mem-block rem saat rem mendadak dan mencegah risiko pengendara terpelanting.

ABS pun dianggap penting untuk diberlakukan pada seluruh kendaraan karena bersangkutan dengan tingginya angka kecelakaan di Indonesia.

Baca juga: Tingginya Kecelakaan Lalu Lintas Bikin Negara Merugi

Berdasarkan data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia, setiap tahun ada 28.000-38.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) turut mengusulkan pemakaian ABS. ABS menjadi bagian dari penerapan active safety dalam kendaraan. Sementara itu, dalam passive safety, misalnya penggunaan safety belt atau pemakaian helm.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.