Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sulitnya Mengembangkan Industri Alat Kesehatan di Dalam Negeri

Kompas.com - 16/10/2018, 15:45 WIB
Kontributor Amerika Serikat, Andri Donnal Putera,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengusaha alat-alat kesehatan mengaku masih sulit mengembangkan industri tersebut dari dalam negeri. Kebanyakan dari mereka selama ini merupakan importir atau distributor alat-alat kesehatan karena bahan bakunya belum tersedia di dalam negeri.

"Alat yang diimpor adalah yang mahal-mahal, yang besar-besar. Ada juga alat yang tidak terlalu besar tapi masih diimpor, karena belum bisa diproduksi di Indonesia," kata Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium atau Gakeslab Indonesia, Sugihadi, melalui konferensi pers, Selasa (16/10/2018).

Sugihadi mengungkapkan, keterbatasan bahan baku dikarenakan industri alat kesehatan berbeda dengan industri pada umumnya. Pelaku industrinya terikat dengan standar mutu, kualitas, dan keamanan yang harus dipenuhi karena berkaitan dengan layanan kesehatan.

"Alat yang kecil, gunting saja belum bisa diproduksi di Indonesia. Memang teknologinya sangat-sangat memerlukan suatu keahlian yang baik," tutur Sugihadi.

Sampai saat ini, sekitar 92 persen alat-alat kesehatan yang digunakan di berbagai rumah sakit diadakan dengan cara impor. Sementara, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

"Kalau boleh disampaikan, untuk industri dalam negeri, yang diproduksi adalah yang sangat-sangat sederhana. Contohnya, hospital furniture, tempat tidur. Hampir semua tempat tidur di rumah sakit diproduksi di dalam negeri. Memang ada komponen yang masih impor," ujar Sugihadi.

Terhadap Inpres tersebut, sampai saat ini sudah ada 10 dari total 411 anggota Gakeslab yang mulai merintis industri alat kesehatan dalam negeri. Gakeslab juga masih menunggu seperti apa penerapan Online Single Submission (OSS) dalam hal memperoleh izin untuk pendirian pabrik alat kesehatan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Survei BI: Kebutuhan Pembiayaan Korporasi pada Kuartal I-2024 Meningkat

Survei BI: Kebutuhan Pembiayaan Korporasi pada Kuartal I-2024 Meningkat

Whats New
Stranas Bisnis dan HAM, Upaya Pemerintah Lindungi Pekerja dalam Praktik Bisnis

Stranas Bisnis dan HAM, Upaya Pemerintah Lindungi Pekerja dalam Praktik Bisnis

Whats New
Soal Boks Mainan Megatron 'Influencer' Rusak, Ini Penjelasan Bea Cukai dan DHL

Soal Boks Mainan Megatron "Influencer" Rusak, Ini Penjelasan Bea Cukai dan DHL

Whats New
Kredit Bank Jatim Naik 18,7 Persen Sepanjang Kuartal I-2024

Kredit Bank Jatim Naik 18,7 Persen Sepanjang Kuartal I-2024

Whats New
Menteri Trenggono Akui Sulit Cegah Penyelundupan Benih Lobster

Menteri Trenggono Akui Sulit Cegah Penyelundupan Benih Lobster

Whats New
Ormas Bakal Bisa Kelola Izin Tambang, Ini Alasan Bahlil

Ormas Bakal Bisa Kelola Izin Tambang, Ini Alasan Bahlil

Whats New
TRIS Bakal Bagikan Dividen Final, Simak Besarannya

TRIS Bakal Bagikan Dividen Final, Simak Besarannya

Whats New
Kenaikan BI Rate Tak Beri Dampak Langsung ke Industri Fintech Lending

Kenaikan BI Rate Tak Beri Dampak Langsung ke Industri Fintech Lending

Whats New
Menteri Trenggono Ungkap Ada 5 Perusaahan Vietnam yang Tertarik Investasi Benur

Menteri Trenggono Ungkap Ada 5 Perusaahan Vietnam yang Tertarik Investasi Benur

Whats New
Stagwell Tambahkan Leverate Group ke Program Global Affiliate

Stagwell Tambahkan Leverate Group ke Program Global Affiliate

Whats New
Tertahan Sejak 2022, Bea Cukai Akhirnya Serahkan Alat Belajar SLB ke Pihak Sekolah

Tertahan Sejak 2022, Bea Cukai Akhirnya Serahkan Alat Belajar SLB ke Pihak Sekolah

Whats New
BI Beberkan Perbedaan Kondisi Ekonomi Saat Ini dengan Krisis 1998

BI Beberkan Perbedaan Kondisi Ekonomi Saat Ini dengan Krisis 1998

Whats New
Kemenperin: Indeks Kepercayaan Industri April Melambat Jadi 52,30

Kemenperin: Indeks Kepercayaan Industri April Melambat Jadi 52,30

Whats New
Intip 'Modern'-nya Pasar Tradisional Lebak Budi di Lampung, Usai Tawar Menawar Bayarnya Pakai QRIS

Intip "Modern"-nya Pasar Tradisional Lebak Budi di Lampung, Usai Tawar Menawar Bayarnya Pakai QRIS

Whats New
IHSG Ditutup Menguat 119 Poin, Rupiah Masih Lesu

IHSG Ditutup Menguat 119 Poin, Rupiah Masih Lesu

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com