Asosiasi: Simplifikasi Cukai Berdampak Langsung ke Petani Tembakau

Kompas.com - 26/10/2018, 12:18 WIB
Petani menjemur daun tembakau rajangan yang sudah diiris didepan rumahnya di Kampung Ciburuy, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (25/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Petani menjemur daun tembakau rajangan yang sudah diiris didepan rumahnya di Kampung Ciburuy, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (25/7/2018). Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian utama di kasawan kaki Gunung Putri, sasaran pasar tembakau di antaranya Jawa tengah dan Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyatakan, kebijakan penyederhanaan atau simplifikasi cukai rokok berdampak langsung terhadap penghidupan ekonomi petani tembakau.

Oleh karena itu, asosiasi tersebut meminta agar pemerintah memperhatikan masukan seluruh kalangan terkait sebelum menelurkan kebijakan itu

"Kami meminta Presiden RI mengingatkan Menkeu agar kebijakan tersebut dikaji ulang dengan memperhatikan masukan semua kalangan terkait," kata ketua DPN APTI Agus Parmuji dalam pernyataannya, Jumat (26/10/2018).

Merujuk kajian APTI, penerapan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 146/2017 terkait simplifikasi tarif cukai tembakau perlu mempertimbangkan dan memperhatikan dampaknya secara keseluruhan, baik terhadap petani tembakau maupun industri kretek nasional.

Implementasi simplifikasi tarif cukai berpeluang berdampak langsung terhadap petani tembakau.

Menurut Agus, PMK Nomor 146 Tahun 2017 ini mengatur penggabungan golongan Sigaret Putih Mesin (SPM) dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM), termasuk panggabungan kuota. Jika kebijakan ini diberlakukan akan merugikan petani sebagai penjual tembakau dan pada umumnya produk kretek sebagai produk nasional.

“Simplifikasi tarif cukai akan mematikan industri kretek nasional yang merupakan penyerap tembakau petani lokal bahkan nasional,” jelas Agus.

Klausul lain, terkait penyederhanaan tarif menjadi 5 layer akan mengakibatkan pabrikan nasional yang kategori besar hingga menengah dan kecil berpotensi gulung tikar. Sebab, mereka tidak sanggup bersaing dengan pemain besar berskala internasional.

“Selama ini industri menengah ke bawah juga berkontribusi terhadap perekonomian petani sebagai penyerap tembakau kelas tiga mengingat semua tembakau yang kurang bagus tidak terserap semua oleh industri besar,” ujar Agus.

Ia juga meminta Kementerian Keuangan menunda penerapan simplifikasi tarif cukai yang akan berdampak ekonomi massal bagi masyarakat pertembakauan.




Close Ads X