Pabrik Bahan Baku Aluminium Berkapasitas 2 Juta Ton Segera Dibangun di Mempawah

Kompas.com - 28/10/2018, 18:14 WIB
Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) Budi Gunadi Sadikin KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERADirektur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) Budi Gunadi Sadikin

BONTANG, KOMPAS.com - Dalam rangka menekan impor bahan baku alumunium, pemerintah melalui anggota Holding Industri Pertambangan (HIP) PT Aneka Tambang (Antam) bekerja sama dengan Alumunium Coroporation of China (Chalco) akan membangun pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pembangunan pabrik ini akan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing dengan kapasitas 1 juta ton alumina.

Baca juga: Antam Siapkan Proyek Hilirisasi Berbasis Nikel dan Bauksit

Adapun untuk tahap pertama yang sudah mealalui proses MoU dengan Chalco memiliki nilai proyek sebesar 850 juta dollar AS dan ditargetkan produksi alumina sudah bisa dilakukan pada tahun 2021 mendatang.

"Konstruksi berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat dalam dua tahap yang total lokasinya dua juta ton meterik ton alumina. Target mulai produksi 2021,” ujar Budi ketika memberikan paparan kepada awak media di Bontang, Minggu (28/10/2018).

Budi menjelaskan, selama ini pihaknya masih harus mengimpor alumina sejumlah 500.000 ton dari China, India, dan Australia untuk memenuhi keperluan produksi alumunium Inalum yang sebesar 250.000 ton. Padahal, harga alumina per tonnya sebesar 600 dollar AS.

Adapun bahan baku dari alumina sendiri berasal dari bauksit yang diproduksi oleh PT Antam dan diekspor ketiga negara tersebut dengan harga 35 dollar per ton.

“Jadi kita ekspor bauksit ke China, India, dan Australia untuk diproduksi jadi alumina. Ternyata dibeli lagi alumina sama Inalum, jadi kenapa impor tinggi, CAD negatif dan kurs melemah karena inalum impor alumina,” tuturnya.

Baca juga: Inalum Ekspor Aluminium Primer ke Pasar Dunia

Budi memaparkan, keberadaan pabrik hilirisasi bauksit tahap satu menjadi alumina ini dapat menekan ongkos impor sekaligus dapat membuat Indonesia menjadi salah satu importir alumina.

Sebab, kebutuhan alumina untuk Inalum sebagai satu-satunya produsen alumunium di Indonesa hanya sebesar 500.000 ton sehingga jika pabrik alumina tahap dua nantinya terealisasi, setidaknya Indonesia dapat mengekspor alumina hingga 1,5 juta ton per tahun.

Namun, Budi belum bisa menjelaskan nilai proyek sekaligus realisasi waktu dari pabrik alumina tahap dua ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X