Soal Demo Ricuh, Kemenhub Sayangkan Tak Ada Perwakilan Grab yang Hadir

Kompas.com - 31/10/2018, 15:31 WIB
Bidik layar video kericuhan saat demo pengemudi transportasi online di kantor Grab di Lippo Kuningan, Senin (29/10/2018). TWITTER.COM/@PEMIRSABidik layar video kericuhan saat demo pengemudi transportasi online di kantor Grab di Lippo Kuningan, Senin (29/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengaku prihatin atas aksi mitra pengemudi di kantor Grab yang berujung ricuh, Selasa (30/10/2018).

Dia menyayangkan tidak ada perwakilan Grab yang menemui peserta aksi setidaknya untuk menenangkan mereka. Sebelum terjadinya aksi, kata Budi, pihaknya telah berkomunikais dengan Grab. Ada dua skema yang saat itu dia tawarkan.

"Kalau pimpinan Grab tidak ada yang mau menemui, ya minimal ada perwakilan bisa menemui. Kalau itu juga tidak bisa, dari pimpinan Grab akan berkomunikasi dengan massa," ujar Budi di kantor Kemenhub, Rabu (31/10/2018)

"Ternyata, dari skema itu, dari awal sampai akhir demo, ternyata tidak ada (opsi yang diambil)," lanjut dia.

Baca juga: Demo Ricuh, Pengemudi Grab Pecahkan Kaca Gedung dan Bakar Ban

Budi menduga massa mengamuk dan aksi menjadi ricuh lantaran tak ada pimpinan maupun perwakilan Grab yang mau menemui mereka. Padahal, sejak awal Kemenhub meminta Grab mengatur skema soal aksi terseut mengantisipasi hal buruk terjadi.

"Sebab cukup besar massa yang hadir. Saya minta Grab kooperatif," kata Budi.

Sebelumnya diberitakan, demo mitra pengemudi online yang tergabung dalam Gerakan Hantam Aplikasi Nakal (Gerhana) di kantor Grab di Lippo Kuningan, Jakarta Selatan, berlangsung ricuh. Demonstran memecahkan kaca lobi gedung Lippo Kuningan.

Selain memecahkan kaca dan membuat Jalan HR Rasuna Said macet, demonstran juga membakar ban di depan gedung Lippo. Polisi kemudian membubarkan para demonstran secara paksa.

Bulan lalu, Komunitas Gerhana juga telah mendemo Grab dan pesaingnya, Go-Jek. Saat mendemo Grab, pada 10 September 2018, ada empat tuntutan yang mereka sampaikan.

Pertama, menagih janji aplikator terkait kesejahteraan para pengemudi. Kedua, menolak keras aplikator menjadi perusahaan transportasi. Ketiga, menolak keras eksploitasi terhadap driver online, dan menolak keras kartelisasi dan monopoli bisnis transportasi online. Keempat, mereka meminta pemerintah menutup perusahaan dan membuat perusahaan baru jika permintaan mereka tak diindahkan.

Menyikapi aksi yang berujung ricuh di kantornya, Managing Director Grab Ridzki Kramadibrata menyatakan, pihak tidak menoleransi aksi itu.

"Kami tidak menolerir segala aksi kekerasan dan siap memberikan dukungan penuh kepada pihak berwenang untuk menenangkan situasi serta membubarkan kelompok pendemo yang telah melakukan tindakan anarki," kata Ridzki.

Ridzki mengatakan, pihak yang dua bulan terakhir ini mendemo Grab adalah para pengemudi yang sudah diputus kemitraannya. Dia mengatakan, mereka terbukti melakukan kecurangan seperti order fiktif.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.