AAJI: Asuransi Jiwa Tetap Butuh Tenaga Pemasar - Kompas.com

AAJI: Asuransi Jiwa Tetap Butuh Tenaga Pemasar

Kompas.com - 08/12/2018, 22:35 WIB
Konferensi Pers Kinerja Asuransi Jiwa Kuarta III tahun 2018 di Rumah Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jumat (7/12/2018)KOMPAS.com/Putri Syifa Nurfadilah Konferensi Pers Kinerja Asuransi Jiwa Kuarta III tahun 2018 di Rumah Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jumat (7/12/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia ( AAJI) Wiroyo Karsono mengatakan, walaupun sudah mulai terdisrupsi oleh teknologi, industri asuransi khususnya asuransi jiwa tetap butuh tenaga pasar.

Dijelaskan olehnya, karena butuh kedekatan personal antara industri dengan calon nasabah asuransi lewat tenaga pemasar tersebut tentang produk-produk asuransi jiwa.

Dalam laporan kinerja industri asuransi jiwa kuartal III tahun 2018, diketahui bahwa tenaga pemasar asuransi jiwa berlisensi pada menurun 1,6 persen menjadi 573.244 orang, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 582.702 orang. Di mana, 90,3 persen dari total tenaga pemasar tersebut berasal dari saluran keagenan.

Penurunan dikarenakan jumlah perekrutan yang memang turun dan adanya terminasi sesuai ketentuan dari internal perusahaan perusahaan anggota AAJI.

“Kebanyakan dari anggota itu melakukan clean up ya, banyak agen yang tidak produktif bertahun-tahun akhirnya beberapa perusahaan asuransi sama-sama bersih-bersih. Jadi, daripada bilang kita punya berapa ribu agen tapi yang aktif cuman 60 persen kan,” ujar Wiroyo di Rumah AAJI Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Ketika ditanya apakah hal ini berkaitan dengan maraknya insurtech atau asuransi dengan aplikasi teknologi melalui agregator, Wiroyo mengungkapkan bahwa memang teknologi bisa mempermudah tapi asuransi jiwa tetap butuh agen pemasar.

“Teknologi itu mempermudah, tapi ketika dia ambil keputusan dia perlu agen. Tidak mungkin dari baca-baca kesepakatan terus setuju aja. Kalau (asuransi) kendaran mungkin aja. Namun, kalau asuransi jiwa kan lebih kompleks dan personalize (produknya),” jelasnya.

Sementara itu untuk total tertanggung industri asuransi jiwa pada kuartal III tahun 2018, mencatat penurunan 10,5 persen menjadi 54.367.527 orang.

Penurunan jumlah tertanggung diakibatkan adanya penurunan dari jumlah tertanggung kumpulan sebesar 14,7 persen dan penurunan jumlah tertanggung perorangan sebesar 0,5 persen.

Penyebab dari terjadinya penurunan jumlah tertanggung, baik perorangan maupun kumpulan adalah banyaknya klaim nilai tebus (surrender) yang menjadi proporsi klaim terbesar.

“AAJI terus berusaha untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat dengan merekrut dan mengembangkan tenaga pemasaran yang andal dan berkualitas,” tandas Wiroyo.



Close Ads X