KILAS EKONOMI

Inalum Pastikan akan Terus Bangun Pusat Penelitian dan Pengembangan

Kompas.com - 16/12/2018, 09:04 WIB
Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Inalum menyampaikan arahan pada pembukaan TIS (Technology Improvement Seminar) ke-19 di Tanjung Gading, Selasa (11/12/18)Dok. Humas Inalum Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Inalum menyampaikan arahan pada pembukaan TIS (Technology Improvement Seminar) ke-19 di Tanjung Gading, Selasa (11/12/18)


KOMPAS.com - 
Direktur Utama PT. Indonesia Asahan Aluminum ( Inalum) Budi Gunadi Sadikin memastikan, pihaknya akan terus mendorong inovasi pembangunan pusat penelitian dan pengembangan. 

Menurut Budi, keseriusan Inalum mewujudkan itu terlihat dari usahanya yang kini tengah mendirikan Mining and Metal Industry Institute.

Tujuan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertambangan ini membuat lembaga pendidikan tersebut bukan hanya untuk penelitian, melainkan pengembangan usaha Inalum.

Inalum membuat Mining & Metal Industry Institute juga untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai kebijakan di bidang pertambangan, industri, dan energi.

"Pendirian itu membantu pula Inalum menjadi perusahaan global,”  jelas Budi saat pembukaan Technology Improvement Seminar (TIS) ke-19, di Sumatera Utara, Selasa (11/12/2018), seperti dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima.

Sementara itu, Komisaris Inalum Agus Tjahayana Wirakusumah di acara tersebut mengatakan, mereka telah menyelenggarakan pertemuan ilmiah dan riset seperti TIS selama 13 tahun.

Fokus TIS ke-19

Pada TIS kali ini, Agus memaparkan beberapa fokus paling utama dalam pelaksanaan seminar.

Di antaranya adalah teknologi, metode, pengukuran atau sistem improvement, peralatan baru untuk meningkatkan kinerja dan kapasitas, efisiensi, serta perbaikan lingkungan.

Adapun Direktur Produksi Inalum, S.S. Sijabat pada acara tersebut memaparkan tentang pencapaian Inalum dalam usaha mengembangkan teknologi yang ada serta roadmap Inalum.

"Dengan pencapaian dan pengembangan tersebut, diharapkan Inalum pada 2027 dapat menjadi penyedia teknologi, sehingga bisa lebih bersaing di industri aluminium dunia," kata Sijabat.

Perlu diketahui, rangkaian acara seminar terdiri dari beberapa sesi. Pertama adalah penyampaian materi dari 5 narasumber yang diikuti dengan diskusi interaktif.  

Contohnya pada sesi pertama. Di sini ada Rahim Rasyid, ia mengupas penelitian tentang Reduction Plant Gets Ready for Industry 4.0, yaitu teknologi otomatisasi terintegrasi dengan internet yang akan dimplementasikan tahap awal di Pabrik Tungku Reduksi.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X