2025, Pemerintah Masih Targetkan Penggunaan EBT Tumbuh 23 Persen

Kompas.com - 10/01/2019, 10:38 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengumumkan kenaikan harga BBM premium di sela-sela kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Menteri ESDM Ignasius Jonan mengumumkan kenaikan harga BBM premium di sela-sela kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Sofitel Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan sempat mengaku pesimistis bahwa pemanfaatan Energi Baru Terbarukan ( EBT) dalam bauran energi nasional bisa tumbuh 23 persen pada tahun 2025.

Menurut dia, pertumbuhannya mungkin sedikit di bawahnya, yakni 20 persen. Namun, saat ini Jonan kembali mempertegas komitmen pemerintah untuk mewujudkan target tersebut. Pengembangan dan pemanfaatan EBT dilakukan dengan Pemerintah melalui keekonomian dan keterjangkauan.

"Untuk energi baru terbarukan, komitmen Pemerintah di COP 21 di Paris itu 23 persen menggunakan energi baru terbarukkan (EBT) di tahun 2025. Komitmen ini tetap kita pertahankan dan akan kita laksanakan," ujar Jonan dalam keterangan tertulis, Kamis (10/1/2018).

Keyakinan itu didorong dengan pertumbuhan sektor kelistrikan yang cukup menggembirakan. Hingga saat ini di sektor kelistrikan telah mencapai sekitar 13 persen. Dalam 2-3 tahun ke depan, diperkirakan akan naik menjadi 16-17 persen.

"Pembangkit-pembangkit listrik tenaga air yang besar-besar dalam dua hingga tiga tahun mendatang akan tumbuh banyak dan selesai, ditambah lagi dengan panas bumi, pembangkit listrik tenaga surya, bayu (angin) dan biomasa," kata Jonan.

Sementara dari sisi transportasi, pemanfaatan EBT adalah dengan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20 persen (B20) dalam BBM jenis solar.

"Untuk transportasi, untuk mesin yang menggunakan solar, sekarang semua menggunakan B20. Termasuk industri juga," kata Jonan.

Diketahui, kapasitas pembangkit EBT terus meningkat hingga akhir tahun 2018. Kapasitas terpasang pembangkit panas bumi telah mencapai 1.948,5 Megawatt (MW). Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pada akhir 2018 mencapai 331,8 MW.

Di samping itu, telah beroperasi pula PLTB Sidrap dengan kapasitas 75 MW dan PLTB Jeneponto sebesar 72 MW siap beroperasi. Untuk kapasitas terpasang pembangkit bioenergi telah mencapai 1.858,5 MW, terdiri dari PLT Biomassa, Biogas, PLT Sampah, dan Biofuel.

Pemerintah terus melakukan berbagai terobosan agar pemanfaatan EBT meningkat. Salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap bagi Konsumen PLN.

Kebijakan yang berlaku efektif pada 1 Januari 2019 itu menjadi payung hukum bagi semua pihak dalam implementasi pemanfaatan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh konsumen PT PLN (Persero).

Partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan EBT juga dapat dilakukan dengan dengan memasang PLTS roof top di rumahnya masing-masing.

"PLTS, yang kami harapkan masyarakat akan banyak pasang di rumah sehingga bisa meningkatkan komposisi bauran energi nasional," kata Jonan.



Close Ads X