Menko Darmin: Jika Tak Impor, Harga Jagung Tembus Rp 8.000 Per Kg

Kompas.com - 22/01/2019, 17:35 WIB
Hasil panen jagung di Kecamatan Tambakboyo, Tuban, Jawa Timur.KOMPAS.com/MICO DESRIANTO Hasil panen jagung di Kecamatan Tambakboyo, Tuban, Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan alasan pemerintah mengimpor jagung kering untuk pakan ternak sebesar 130.000 ton.

Pasalnya, jika tak mengimpor harga jagung kering bisa mencapai Rp 8.000 per kilogram (kg) sementara saat ini, harga jagung kering sudah mencapai Rp 6.000 per kg dari Rp 3.000 sejak akhir tahun lalu.

"Kalau harga mahal, itu berarti kurang jagungnya, emang bisa disembunyikan urusan pasar? Syukur ada impor ini kalau nggak harganya bisa Rp 8.000 (per kilogram)," jelas Darmin kepada awak media ketika ditemui di kantornya, Selasa (22/1/2019).

Darmin menjelaskan, impor jagung tetap dilakukan meski saat ini tengah memasuki masa panen lantaran tidak semua peternah skala kecil memiliki gudang penyimpan jagung. Sehingga dikhawatirkan harga pakan ternak ditataran pedagang kecil akan semakin mahal.

Di sisi lain, jika harga jagung mahal juga bisa merambat pada produksi telur dalam negeri. Padahal, salah satu sumber protein terbesar masyarakat Indonesia berasal dari jagung.

"Kamu pernah pergi ke Blitar? (Peternaknya) kecil-kecil. Dia enggak punya gudang untuk simpan jagung. Jadi setiap beli jagung buat sebulan, dia campur macam-macam. Kalau harga naik, dia kena. Sementara masyarakat kita proteinnya paling banyak dari apa? Dari telur ayam," ujar Darmin.




Close Ads X