Butuh 230 Juta Dollar AS, Satelit Nusantara Satu Dapat Suntikan dari Kanada

Kompas.com - 23/01/2019, 16:41 WIB
PT Pasifik Satelit Nusantara akan meluncurkan Satelit Nusantara Satu di Florida, AS, pada Februari 2019. KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA PT Pasifik Satelit Nusantara akan meluncurkan Satelit Nusantara Satu di Florida, AS, pada Februari 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Satelit Nusantara Satu buatan PT Pasifik Satelit Nusantara menghabiskan biaya sebesar 230 juta dollar AS.

Direktur Utama PT PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan, sumber pendanaan berasal dari modal internal dan Export Development Canada (EDC). Pembiayaan dari EDC dilakukan sejak Desember 2017.

"Pendanaannya 30 persen internal (PSN), 70 persen dari Kanada," ujar Adi di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Adi mengatakan, 230 juta dollar AS tersebut sudah termasuk biaya merakit roket satelit, biaya pengangkutan dari California ke Florida, hingga biaya peluncuran. Rencananya, satelit ini akan diluncurkan pertengahan Februari 2019 di Florida.

Baca juga: Resmi, Jaringan Satelit BRI Juga Dipakai TNI

Biaya tersebut, kata Adi, masih lebih murah dibandingkan satelit yang sudah ada sebelumnya di Indonesia. Sebab, berat satelit hanya 4,7 ton, lebih kecil dibandingkan rata-rata berat satelit lain sebesar 5,5 hingga 6 ton. Satelit tersebut akan diluncurkan bersamaan dengan dua satelit lainnya sehingga biayanya lebih murah.

"Kalau beli roket masih ada beban lain yang bisa mengangkut sehingga biaya peluncuran N-1 bisa setengah dari biaya roket," kata Adi.

Tak hanya biaya yang lebih efisien, kapasitas yang diberikan satelit Nusantara Satu juga tiga kali lebih besar dari satelit yang sudah ada di Indonesia. Jika satelit lainnya rata-rata memiliki kapasitas 5 gigabits perdeti?, Nusantara Satu bisa mencapai 15 gigabits perdetik.

Adi mengatakan, diluncurkannya satelit Nusantara Satu menunjukkan bahwa Indonesia mampu membangun satelit sendiri. Misalnya, 1 miliar dollar kelihatannya jumlah yang besar. Namun, bebannya ringan jika dikumpulkan dalam 5-10 tahun. Pada sektor privat negara lain seperti China sudah mulai merintisnya.

"Saya sebagai orang satelit melihatnya mau ak mau keingunan itu harus mulai diadakan. Harus punya rencana jelas mengenai itu," kata Adi.




Close Ads X