5 Fakta Eka Tjipta, Pengusaha dengan Bisnis Menggurita

Kompas.com - 28/01/2019, 07:26 WIB
Foto 1998: Sukamdani Sahid Gitosardjono (saat itu pemilik Bank Sahid Gajah Perkasa) bersama pemilik bank yang merger Eka Tjipta Widjaja (kiri).KOMPAS/EDDY HASBY Foto 1998: Sukamdani Sahid Gitosardjono (saat itu pemilik Bank Sahid Gajah Perkasa) bersama pemilik bank yang merger Eka Tjipta Widjaja (kiri).

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja, tutup usia pada Sabtu (26/1/2019) di umur 98 tahun. Rencananya, mendiang Eka dimakamkan pada Sabtu 2 Februari 2019. Lokasinya di Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Di umur hampir 100 tahun itu, Eka berhasil mengembangkan bisnisnya hingga menjadi salah satu perusahaan raksasa di Asia. Ekspansi bisnis dilakukan tak hanya di Indonesia, tapi juga ke luar negeri. Eka juga membangun jaringan bisnis yang besar sehingga Sinar Mas Group mencakup komoditas bisnis yang beragam.

Berikut 5 fakta menarik mengenai Eka Tjipta :

1. Salah satu orang terkaya

Eka Tjipta dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Majalah Globe Asia menulis, kekayaannya pada 2018 mencapai 13,9 miliar dollar AS. Dengan angka tersebut, ia dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya versi majalah itu. 

2. Imigran yang hanya lulusan SD

Pria kelahiran Quanzhou, China, ini bermigrasi ke Indonesia pada 1932. Saat itu, Oei Ek Tjhong, nama kecil Eka, harus berlayar selama tujuh hari tujuh malam untuk tiba di Makassar, Sulawesi Selatan. Eka bukan berasal dari keluarga kaya.

Dilansir dari Kompas.id, uang lima dollar AS yang dibawa saat perjalanan tak cukup ia belanjakan makanan. Sebab, untuk bisa sampai di Indonesia, ia harus berutang kepada rentenir 150 dollar AS.

Untuk melunasi utangnya, Eka kecil langsung bekerja di toko milik ayahnya yang tiba lebih dulu di Makassar. Beruntung, utang tersebut dapat dilunasi dalam kurun dua tahun seiring kian maju toko ayahnya.

Setiba di Indonesia, usianya baru sembilan tahun. Setelah melunasi utangnya, Eka meminta untuk disekolahkan. Namun, ia tak mau bila harus mulai dari kelas satu.

Selesai sekolah dasar, Eka tak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya karena persoalan ekonomi. Ia kemudian mulai berjualan.

3. Memulai bisnis sejak remaja

Bisnis memang makanan sehari-hari Eka sejak kecil. Siapa sangka Eka dulunya pernah berjualan kue di usia belasan.

Saat berusia 11 tahun, Eka yang saat itu dikenal sebagai Oei Ek Tjhong merintis usaha pertamanya dengan berkeliling dari rumah ke rumah di kota Makassar. Ia menjajakan produk makanan menggunakan sepeda.

4. Berawal di Makassar

Makassar menjadi ladang pencarian untung pertamanya. Ia menjajakan biskuit dan kembang gula berkeliling menggunakan sepeda. Hanya dalam waktu dua bulan, ia telah merengguk untung Rp 20, jumlah yang sangat besar saat itu.

Namun, tiba-tiba, Jepang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar. Invasi tersebut membuat usahanya hancur total. Keuntungan Rp 200 yang sudah dikumpulkan susah payah selama beberapa tahun habis dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak ingin putus asa, Eka memilih bangkit. Dengan sepeda bututnya, ia keliling Makassar hingga ke Paotere, sebuah wilayah di pinggiran ibu kota Sulawesi Selatan itu.

Ia melihat tumpukan terigu, semen, dan gula di camp tawanan pasukan Belanda. Dengan otak bisnis yang encer, Eka memanfaatkan hal tersebut dengan membuka tenda di sana dan menjual makanan serta minuman kepada tentara Jepang yang berada di sana.

Eka pun membawa kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok, dan sebagainya. Ia juga menjual ayam matang. Mulanya, dagangannya tidak laku. Ia pun memutuskan untuk mendekati bos pasukan Jepang dan mentraktirnya makan dan minum di tenda.

Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, komandan tersebut kemudian memperbolehkan anak buahnya dan tawanan makan minum di tenda Eka.

Tak berhenti sampai sana, ia kemudian bekerja keras untuk memilih barang mana saja yang masih bisa dipakai dan dijual.

5. Bisnis menggurita

Selama 80 tahun Sinarmas Group dirintis, Eka membabat berbagai komoditas bisnis, mulai dari pulp dan kertas, jasa keuangan, properti, hingga keuangan. Ia pertama kali mendirikan pabrik minyak goreng Bitung Manado Oil Ltd di Manado pada 1968.

Tak lama setelah itu, Eko juga membangun PT Kunci Mas di Rungkut, Surabaya. Kedua pabrik ini menjadi cikal bakal Sinarmas Agribusiness and Food yamg memproduksi minyak goreng Filma dan Kunci Mas.

Pada 1972, Eka mendirikan pabrik kertas bernama PT Tjiwi Kimia. Pada 1982, Sinarmas mendirikan PT Internas Artha Leasing Company yang kemudian bertransformasi menjadi PT Sinarmas Multiartha Tbk.

Perusahaan ini berdiri untuk memberikan layanan jasa pembiayaan. Di tahun yang sama, Sinar Mas mengawali pengelolaan perkebunan kelapa sawit setelah mengakuisisi kebun seluas 10.000 hektar di Sumatera Utara.


Halaman:



Close Ads X