Bitcoin Ulang Tahun ke-9, Lantas Hendak ke Mana? - Kompas.com

Bitcoin Ulang Tahun ke-9, Lantas Hendak ke Mana?

Daniel Kwan
Kompas.com - 03/01/2018, 09:11 WIB
Souvenir koin emas bitcoin yang dipamerkan di London, Inggris, pada 20 November 2017. AFP PHOTO/JUSTIN TALLIS Souvenir koin emas bitcoin yang dipamerkan di London, Inggris, pada 20 November 2017.


INI HARI
sembilan tahun lalu, 3 Januari 2009, bitcoin mulai diperdagangkan. Ia mencuri perhatian dunia.

Perkembangannya fantastis dan agresif, bikin dag dig dug investornya. Namun, sampai hari ini masih juga ada banyak pertanyaan mengiringi bubble mata uang virtual ini.

Konon, pada 2009 itu, Satoshi Nakamoto yang diklaim sebagai creator Btc (bitcoin) mengirimkan sejumlah Btc ke koleganya. “Transfer” ini disertai catatan “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks”.

Kiriman dan pesan tersebut menandai dimulainya transaksi dengan mata uang virtual Btc di seluruh dunia dalam sebuah sistem Blockchain Bitcoin alias Genesis Block.

Jauh sebelum itu terjadi, Satoshi yang hingga sekarang belum diketahui orangnya yang mana, memformulasi Btc sedemikian rupa. Akibatnya, perkembangan Btc mengalami pasang-surut.

Waktu itu, ada kekhawatiran para creator-nya tentang respons masyarakat keuangan dunia tehadap Btc. Karenanya, mata uang virtual yang sekarang paling populer ini ‘hidup’ secara underground lewat komunitasnya yang ekslusif.

(Baca juga: Survei: Bitcoin Investasi Paling Gaduh di Dunia )

Kini, Btc telah mencuri perhatian masayarakat keuangan dunia bahkan otoritas negara membicrakannya sebagai isu internasional. Btc kemudian menjadi ‘mainan’ baru dunia investasi para kalangan berduit yang haus produk baru mendulang keuntungan berlipat.

Akun pemilik bitcoin wallet terus bertambah pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data terakhir menyebut, ada 21,4 juta bitcoin wallet di penghujung 2017.

Dari jumlah itu, beberapa ratus ribu di antaranya dimiliki para member yang terdaftar di Bitcoin.co.id. Hingga saat ini, ada lebih dari seratus Crypto Exchanges di lebih dari 50 negara.

Itu baru dari jumlah akun.

Jika mengamati bagaimana pergerakan nilai Btc, kita akan lebih terhenyak lagi. Fenomena apa pun yang berada di balik pergerakan nilai Btc, tentu saja itu berhasil memancing aneka reaksi dari penjuru dunia.

Pada awal 2010, nilai Btc kurang dari satu sen dollar AS lalu menjadi 200-an dollar AS pada awal 2015, kemudian menjadi 900-an dollar AS pada awal 2017. Sepanjang 2017, Btc sempat membukukan kenaikan lebih dari 1.800 persen.

Grafik Harga Bitcoin 2017Dok Grafik Harga Bitcoin 2017

Dan, rupanya 2017 adalah masa keemasan Btc dalam hal menyita perhatian publik. Akun-akun korporasi mulai mewarnai pemegang aset Btc. Investment banking dan hedge fund dari seluruh dunia mulai menginvestasikan sebagian aset mereka ke bitcoin dan produk crypto currency lainnya.

(Baca juga: Mungkinkah Bitcoin Diperdagangkan di Bursa Berjangka Indonesia? )

Publik Amerika sudah dapat membeli kontrak Futures bitcoin di CBOE (Chicago Board Options Exchange) dan CME Group (Chicago Mercantile Exchange & Chicago Board of Trade). Langkah tersebut dibaca publik sebagai bentuk dukungan pemerintah Amerika terhadap Btc.

Kejayaan Btc berlanjut. Kenaikan nilai investasi yang mencapai 1.400 persen menyebabkan Btc diperbandingkan dengan nilai investasi bursa dunia. Berikut ini adalah gambaran kinerja investasi Btc dan bursa ternama.
 

Tabel Kinerja Bitcoin di Berbagai Bursa Dunia pada 2017Dok Tabel Kinerja Bitcoin di Berbagai Bursa Dunia pada 2017

Pada ulang tahunnya yang kesembilan, hari ini, harga satuan Btc masih perkasa bertengger di harga 14.000-an dollar AS. Artinya, dengan jumlah Btc yang beredar saat ini, yakni sekitar 16,77 juta Btc, valuasinya mencapai sekitar 230 miliar dollar AS.

Jika kita iseng membandingkan dengan nilai APBN kita, valuasi tersebut setara 1,35 kali nilai APBN 2018 atau sekitar 45 persen nilai pasar keseluruhan saham di IHSG.

Bitcoin hendak dibawa ke mana?

Satoshi pantas bangga dengan pencapaian bitcoin selama 9 tahun ini. Pertanyaannya, hendak Ke mana bitcoin?

Kejayaan Btc yang fantastis itu memang diiringi banyak tanya, baik dari masyarakat awam maupun para investornya. Euforia Btc dibayangi awan gelap yang datang dari sejumlah fakta.

Selain teknologinya yang bersifat open source—yang rentan mengundang praktik hacking—, misalnya, siapa pihak bertanggung jawab terhadap kinerja Btc? Lalu, akankah Btc dan virtual money lainnya bakalan diterima menjadi alat tukar sah? Bagaimana masa depan Btc? Masih ada sederet pertanyaan lain lagi. 

Semua kekhawatiran itu wajar adanya.

Pertama, tidak ada satu institusi pun yang memiliki otoritas dan bertanggung jawab atas kelangsungan dan kegagalan bitcoin. Fakta ini menyebabkan banyak bank sentral dan pemerintahan kesulitan mengatur dan meregulasikan kebijakan bitcoin di teritori mereka masing-masing.

Beberapa negara bahkan mengambil langkah ekstrem dalam memproteksi perekonomian mereka, termasuk mencegah larinya dana mereka ke negara lain yang lebih dominan dan memiliki cadangan bitcoin lebih banyak. Misalnya, dengan melarang transaksi deposit mata uang fiat ke Crypto Exchanges, meski tetap membiarkan transaksi trading-nya berlangsung.

(Baca juga: Otoritas Moneter Singapura Beri Peringatan Soal Bitcoin )

Negara yang punya keleluasaan cadangan devisa umumnya mengambil langkah yang lebih berani dengan mengalokasikan sebagian cadangan devisanya ke dalam bentuk bitcoin.

Bahkan, ada juga yang terang-terangan mendukung dan mendanai beragam kegiatan guna mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari bitcoin dan Crypto Currency lainnya. Mereka benar-benar menjadikan ini sebagai peluang investasi, dengan harapan dikemudian hari dapat menambah cadangan devisa negara mereka.

Sejumlah orang melintasi mesin ATM bitcoin di Hongkong. Gambar diambil pada 18 Desember 2017. AFP PHOTO/ANTHONY WALLACE Sejumlah orang melintasi mesin ATM bitcoin di Hongkong. Gambar diambil pada 18 Desember 2017.

Beberapa negara yang sudah terlanjur masif adopsi bitcoinnya, mulai mengambil langkah lebih maju dalam mengantisipasi dampak negatif. Antara lain dengan mempertimbangkan mengembangkan Crypto Currency mereka sendiri, yang dikelola oleh bank sentral di negara mereka.

Beda lagi dengan negara yang tengah mengalami krisis ekonomi, atau cadangan devisanya terbatas. Di tengah kesibukan mengurusi urusan dalam negerinya, daripada mengalami kebingungan mereka cenderung membiarkan begitu saja, dan seperti tidak berdaya mengelola aktivitas para investor mereka yang gelap mata memburu bitcoin.

Negara-negara yang memiliki cadangan bitcoin terbesar berharap besar pada fenomena transaksi Btc setiap harinya. Sedikitnya akan masuk puluhan milliar dollar AS ke sistem perekonomian negara tersebut.

(Baca juga: Korea Selatan Wajibkan Transaksi Bitcoin Pakai Nama Asli )

Tentu saja, dengan sadar negara-negara ini akan menjaga kondusivitas dari bitcoin, mengampanyekan bitcoin ke seluruh pelosok dunia demi melanggengkan  kelangsungan “bisnis” digital berskala global ini.

Dari sini terlihat, tidak ada satu keseragaman pada negara-negara tersebut dalam pengelolaan bitcoin di Negara mereka.

Kedua, teknologi yang digunakan dalam sistem bitcoin, atau yang lazim dikenal sebagai Blockchain pun masih terus mengalami pengembangan meski sudah dikembangkan sejak 2008.

Walaupun bersifat open source, yang artinya dapat di akses oleh publik, teknologi ini tetap saja mash terhitung rumit dan sulit dipahami oleh banyak praktisi teknologi informasi di mana pun.

Mesin ATM bitcoin di Italia. Gambar diambil pada 11 Desember 2017. AFP PHOTO/PIERRE TEYSSOT Mesin ATM bitcoin di Italia. Gambar diambil pada 11 Desember 2017.

Selama 2017 saja, terjadi beberapa kali hard fork, semacam perbaikan dan pengkinian terhadap sistem Blockchain, yang tujuannya meningkatkan kemampuan dan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap teknologi itu sendiri.

Teknologi Distributed Ledger yang dianut Blockchain, teknik cryptography yang digunakan untuk mengamankan sistemnya, konsep bitcoin mining dan reward di dalamnya, mekanisme pencatatan dan verifikasi-nya yang canggih, serta beragam metode unik nan kompleks yang dikembangkan Satoshi benar-benar merupakan paket teknologi yang arsitektur sistem dan cara kerjanya dengan mudah membingungkan masyarakat awam.

Belakangan, keruwetan dan kompleksitas sistem Btc kerap menjadi bahasa magis yang kerap dikumandangkan oleh banyak media mainstream, termasuk juga potensi-potensi yang dapat diaplikasikan teknologi ini. Namun, sepertinya para pelaku industri Blockchain lebih memilih terlena untuk menikmati gurihnya profit dari investasi bitcoin daripada berpeluh dengan kompleksitas dan pengaplikasian teknologi Blockchain yang masih belum aplikatif.

(Baca juga: Daftar Negara yang Melarang Penggunaan Mata Uang Digital Seperti Bitcoin )

Pemberitaan yang begitu masif di beberapa media massa utama dunia, terlebih dengan kehebohan yang ditimbulkan dari kenaikan harga bitcoin dalam beberapa bulan terakhir, telah secara otomatis mendongkrak popularitas bitcoin dan sukses menyedot banyak investor untuk berburu bitcoin.

Apakah lantas dengan populasi pengguna dan investor bitcoin yang kian masif dan segera menjadi mainstream ini kelak akan menjadi tekanan bagi pemerintahan di banyak negara untuk segera mengakui dan menerimanya sebagai alat pembayaran?

Ketiga, masyarakat pada umumnya belum menerima penggunaan uang virtual. Masyarakat membutuhkan waktu untuk mengerti bagaimana cara memperoleh, menyimpan, mengamankan, dan menggunakan bitcoin.

Hal yang sama juga terjadi dengan pemerintah masing-masing negara. Otoritas masih belum menemukan cara memonitor dan mengendalikan pergerakan uang digital ini. Akun pemilik Btc dapat dengan mudah dan cepat memindahkan harta virtual mereka di antara mereka sendiri tanpa perantaraan siapa pun—apakah itu bank ataupun lembaga lain—sehingga keberadaannya tidak mudah terlacak.

Souvenir koin emas bitcoin yang diperjualbelikan di Inggris. Foto diambil pada 20 November 2017. AFP PHOTO/JUSTIN TALLIS Souvenir koin emas bitcoin yang diperjualbelikan di Inggris. Foto diambil pada 20 November 2017.

Model keuangan semacam ini sangat rentan digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan terorisme, money laundry, penggalangan dana untuk kegiatan terlarang, kejahatan narkoba, atau transaksi ilegal lainnya.

Keempat, konsep bitcoin sebagai mata uang sedemikian rumit dan kompleks, sehingga menimbulkan kesulitan bagi banyak masyarakat umum untuk memahaminya, untuk mengerti karakterisitk dan cara kerjanya.

Yang paling utama adalah konsep dan mekanisme pembuatan bitcoin. Penjelasan mengenai bagaimana sistem Bitcoin Blockchain mencetak uang bitcoin baru, yang kerap dikenal dengan istilah mining, itu saja sudah cukup bikin pusing bagi kebanyakan orang.

Secara keseluruhan, bitcoins hanya akan berjumlah 21 juta. Hingga hari ini, proses bitcoin mining baru menghasilkan sekitar 16,77 juta bitcoins, dan diperkirakan populasi utuhnya akan tercapai pada 2140.

Kemudian, bagaimana sistem tersebut menyimpan dan mengelola seluruh transaksi bitcoin, baik dari transaksi menghasilkan maupun transaksi mengirim dan menerima bitcoin, ini juga membuat banyak orang kesulitan membayangkan persisnya metode dan cara kerjanya.

Kelima, yang terakhir sekaligus yang tidak kalah membingungkan adalah konsep nilai yang termuat dalam satu bitcoin.

Nilai mata uang fiat umumnya dipengaruhi cadangan emas atau faktor-faktor lain seperti stabilitas suatu negara, kepercayaan terhadap mata uang, dan volume perdagangan yang melibatkan mata uang tersebut.

(Baca juga: 5 Alasan yang Bikin Orang Masih Enggan Koleksi Bitcoin )

Lain halnya dengan bitcoin. Semula, penciptaannya ingin terhindar dari pengaruh supply dan demand. Namun, pada perkembangannya malah sangat tergantung dengan supply dan demand. Hal ini berdampak pada volatilitas nilai dari bitcoin itu sendiri.

Perilaku pergerakan nilai dan volatilitas bitcoin yang naik turun bak roller-coaster, seperti mengingatkan kita bagaimana bitcoin kemudian diperlakukan layaknya komoditas investasi lainya. Bitcoin terlihat tidak lagi diperlakukan sebagai mata uang yang nilainya relatif lebih stabil sehingga dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran dan dapat dijadikan simpanan.

Di banyak negara, meski sudah banyak merchants yang menerima pembayaran dengan bitcoin, nampaknya volume transaksinya mereka pun masih sangat minim.

Hal ini mudah dimaklumi karena para empunya bitcoin tentu tidak kepengin menukarkan bitcoin yang mereka miliki saat ini dengan secangkir kopi atau seloyang pizza, karena di beberapa bulan mendatang bitcoin mereka akan menjanjikan keuntungan luar biasa.

Namun, sepertinya kebingungan-kebingungan itu tidak akan menyurutkan minat para investor. Meski harganya sudah dinilai banyak pengamat mengalami bubble, bitcoin tetap saja menarik di mata para investor yang seperti gelap mata memburunya. Mungkinkah ini bentuk optimisme para investor menyambut tahun baru?

Pada hari ulang tahun ke-9 bitcoin ini, jika saja kita berkesempatan bertanya kepada Satoshi, mungkin dia sendiri akan kebingungan dengan arah dan masa depan bitcoin yang semula ia ciptakan untuk menjadi uang baru, uang digital yang juga dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran.

Jadi, Mister Satoshi, mau dibawa ke mana bitcoin?

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM