Habibie dan Jejak Pesawat Buatan Indonesia (Bagian II)

Kompas.com - 30/09/2017, 10:55 WIB
BJ Habibie. KOMPAS/ALIF ICHWANBJ Habibie.
|
EditorMuhammad Fajar Marta


BJ HABIBIE.
Dengan pesawat ini, buatan mereka sendiri, seluruh pulau di Indonesia bisa terhubung. Bayangkan infrastruktur yang berkembang, kemajuan ekonomi di pulau-pulau itu. Mereka bisa mandiri. Tapi ternyata bangsa ini tidak mau.”

Kutipan di atas muncul dalam salah satu adegan film Habibie dan Ainun yang tayang pada 2012. Diperankan Reza Rahardian, Habibie terlihat mendatangi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), perusahaan yang sekarang sudah berganti nama jadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Momentum dalam adegan tersebut terjadi setelah pertanggungjawaban Habibie sebagai Presiden Indonesia ditolak MPR pada 20 Oktober 1999. Di situ, Habibie menyambangi pesawat N-250. Kutipan di atas dia ucapkan setelah mengusap debu yang ada di permukaan pesawat tersebut.

(Baca juga: Habibie: Kalau Saya Bisa Produksi N 250 atau R 80 Tiap Hari...)

Ketika Kompas.com sempat bertemu Habibie pada 2013, kesan yang sama masih terpancar saat bicara pesawat. Menurut Habibie, momentum N-250 seharusnya sangat tepat untuk titik tolak kejayaan industri dirgantara Indonesia, andai proyek pesawat itu berjalan sesuai rencana.

Visi, tegas Habibie, yang semestinya menuntun arah langkah bangsa ini. Dia menolak menggunakan kata “mimpi”, karena buat dia diksi itu identik dengan angan-angan. Namun, nasi telah menjadi bubur.

Pesawat N-250, ujar dia, sudah kehilangan momentum. Pasar pesawat berpenumpang sampai 60-an orang sudah banyak pesaing dan atau tak lagi ekonomis. Bila hendak kembali berjaya di industri dirgantara, kata dia, Indonesia harus membangun pesawat berkapasitas 80-90 orang.

Pesawat N250KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO Pesawat N250

Pasar pesawat dengan mesin jet dan berbadan lebar pun sekarang sudah sesak dijejali produk Boeing dan Airbus. Lagi pula, proyek N-2130 yang hanya berakhir sebagai rencana di atas kertas—setelah mangkraknya pesawat N-250—membuat Indonesia belum punya rekam jejak merancang dan membangun pesawat jenis itu.

Visi dirgantara

Indonesia sejatinya punya sejarah panjang industri dirgantara. Orang pertama yang layak disebut sebagai “tukang pesawat” Indonesia adalah Nurtanio Pringgoadisuryo. Bersama Wiweko Soepono, dia “mendaur ulang” dan merakit pesawat Zogling NWG (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada 1947.

Dari tangan Nurtanio dan teman-temannya itu, lahir juga pesawat tempur NU-200 dengan julukan Sikumbang, dibuat pada 1953 dan uji terbang pada 1 Agustus 1954. Menyusul kemudian sejumlah pesawat lain yang diberi nama-nama Indonesia, seperti Kunang-kunang dan Gelatik.

Nurtanio adalah nama sekaligus sebutan yang lekat dengan industri pesawat yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, selama berdekade-dekade, sekalipun singkatannya sudah IPTN. Simbol “N” pada nama produk-produk keluaran IPTN dan PT DI juga merujuk pada nama Nurtanio, penggila pesawat kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 1923.

Sebelumnya, pada 1948, Indonesia juga membuktikan kebanggaan diri sebagai bangsa dengan patungan membeli pesawat untuk melawan Belanda yang ingin kembali berkuasa di Bumi Pertiwi. Adalah rakyat Aceh yang menyumbang dana setara harga 20 kilogram emas untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Replika Indonesian Airways, Dakota RI-001 SeulawahKOMPAS/ARBAIN RAMBEY Replika Indonesian Airways, Dakota RI-001 Seulawah

Visi kedirgantaraan Indonesia sempat melenggang dan membangkitkan kebanggaan sekaligus harapan. Setelah menjadi lini produksi dengan CASA membuat NC-212, pada 1983 hadir CN-235 sebagai awal sejarah rancangan pesawat dari IPTN.

Pada pengujung 1990-an, pesawat N-250 yang tak lagi memasang nama CASA sudah jadi. Seharusnya, pesawat—disebut tercanggih di kelasnya pada masanya—itu tinggal menanti sertifikasi setelah uji terbang, tetapi malah berakhir mangkrak. Setali tiga uang, proyek N-2130 pun gagal terlaksana.

Selepas reformasi, IPTN yang lalu berganti nama menjadi PT DI pada 2000 malah terseok-seok bahkan sekarat. Para “tukang pesawat” terjebak dilema. Sebagian memilih bertahan dan menjaga asa industri dirgantara akan bangkit lagi. Namun, sebagian yang lain memilih menerima tawaran bekerja di industri pesawat di luar negeri untuk menyalurkan keahliannya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X