Habibie dan Jejak Pesawat Buatan Indonesia (Bagian II)

Kompas.com - 30/09/2017, 10:55 WIB
Replika Indonesian Airways, Dakota RI-001 Seulawah KOMPAS/ARBAIN RAMBEYReplika Indonesian Airways, Dakota RI-001 Seulawah
|
EditorMuhammad Fajar Marta

Sebelumnya, pada 1948, Indonesia juga membuktikan kebanggaan diri sebagai bangsa dengan patungan membeli pesawat untuk melawan Belanda yang ingin kembali berkuasa di Bumi Pertiwi. Adalah rakyat Aceh yang menyumbang dana setara harga 20 kilogram emas untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Visi kedirgantaraan Indonesia sempat melenggang dan membangkitkan kebanggaan sekaligus harapan. Setelah menjadi lini produksi dengan CASA membuat NC-212, pada 1983 hadir CN-235 sebagai awal sejarah rancangan pesawat dari IPTN.

Pada pengujung 1990-an, pesawat N-250 yang tak lagi memasang nama CASA sudah jadi. Seharusnya, pesawat—disebut tercanggih di kelasnya pada masanya—itu tinggal menanti sertifikasi setelah uji terbang, tetapi malah berakhir mangkrak. Setali tiga uang, proyek N-2130 pun gagal terlaksana.

Selepas reformasi, IPTN yang lalu berganti nama menjadi PT DI pada 2000 malah terseok-seok bahkan sekarat. Para “tukang pesawat” terjebak dilema. Sebagian memilih bertahan dan menjaga asa industri dirgantara akan bangkit lagi. Namun, sebagian yang lain memilih menerima tawaran bekerja di industri pesawat di luar negeri untuk menyalurkan keahliannya.

Baru pada 2017, sejarah pesawat buatan Indonesia berlanjut, dengan berhasilnya uji terbang pesawat N-219. Tantangannya masih panjang, terutama soal pangsa pasar dan kapasitas produksi. Terlebih lagi, ini adalah pesawat kecil dengan kapasitas tak lebih dari 19 orang di dalam kabin, lebih kecil daripada CN-235 yang berkapasitas 35 orang.

(Baca juga: Pesawat N219 Resmi Terbang Perdana)

Pesawat N219 buatan PT Dirgantara IndonesiaKOMPAS.com/DENDI RAMDHANI Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia

“Saya, sudah usia 50-an, adalah salah satu angkatan terakhir dari generasi dirgantara Indonesia yang belajar dan membuat pesawat terbang dalam rentetan sejarah itu,” imbuh Deputi Direktur Keuangan Urusan Pendanaan PT Regio Aviasi Industri (RAI) Desra Firza Ghazfan, saat berbincang dengan Kompas.com lewat saluran telepon, akhir Agustus 2017.

Bila tidak ada lagi proyek pesawat yang betul-betul dibangun dan digarap oleh anak-anak negeri, kata Desra, generasi dirgantara yang susah-payah dididik sejak 1950-an itu akan tinggal masa lalu.

Merujuk sejarah, ujar dia, bisa jadi akan butuh 30 tahun lagi bila harus menyiapkan ulang angkatan baru generasi dirgantara yang benar-benar pernah punya pengalaman membuat sendiri pesawat terbang.

Menurut Desra, proyek pesawat R80 yang digagas Habibie sejatinya adalah peluang untuk memastikan generasi dirgantara Indonesia berlanjut. Dia yang sebelumnya berkiprah di IPTN ini pun bertutur tentang salah satu koleganya yang memilih bertahan di dalam negeri lalu berakhir jadi sopir taksi setelah pensiun.

(Baca jugaRibuan Engineer Terlibat Dalam Proyek Pesawat R80 Rancangan BJ Habibie)

Padahal, ujar Desra, sang kolega itu pernah jadi manajer material untuk proyek N-250. Dia juga pernah terlibat dalam penggarapan mobil nasional Maleo. Ilmunya yang tak dikuasai sembarang orang akhirnya mangkrak, bahkan berbayang penyesalan karena tak ikut eksodus ketika ada kesempatan pada 20-25 tahun yang lalu.

Miniatur pesawat R80. KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Miniatur pesawat R80.

Sejarah dirgantara Indonesia sudah bergulir hampir seusia kemerdekaan. Generasi dirgantara yang pernah digadang-gadang mengibarkan nama bangsa dan negara, kini tinggal hitungan jari.

Apa kaitan semua cerita di atas dengan proyek pesawat R80 yang bahkan mengundang rakyat Indonesia untuk patungan membiayainya? Simak jawabannya di bagian III dan IV tulisan berseri ini, dan simak pula bagian pertama serial tulisan yaitu "Patung Pancoran, Visi Dirgantara, dan Proyek R80 Habibie".


Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X