Kotak Pandora "Sharing Economy"

Kompas.com - 02/10/2017, 09:00 WIB
Seorang wanita memegang sebuah smartphone yang menunjukkan aplikasi layanan taksi ride-sharing Uber di London pada 22 September 2017. Pada hari itu otoritas transportasi London mengumumkan bahwa mereka tidak akan memperbarui lisensi Uber untuk beroperasi di kota tersebut saat lisensi berakhir pada 30 September untuk alasan keamanan. Uber mendapat kesempatan selama tiga minggu untuk mengajukan banding. AFP PHOTO/DANIEL LEAL-OLIVASSeorang wanita memegang sebuah smartphone yang menunjukkan aplikasi layanan taksi ride-sharing Uber di London pada 22 September 2017. Pada hari itu otoritas transportasi London mengumumkan bahwa mereka tidak akan memperbarui lisensi Uber untuk beroperasi di kota tersebut saat lisensi berakhir pada 30 September untuk alasan keamanan. Uber mendapat kesempatan selama tiga minggu untuk mengajukan banding.
EditorBambang Priyo Jatmiko

SAAT ini aplikasi Uber di London, Inggris, sedang berjuang untuk peroleh lisensinya kembali. Pemerintah lakukan banned pada perusahaan platform itu karena Uber dinilai tak fit and proper pada aturan transportasi yang ada. Misalnya, beberapa kali terjadi kekerasan seksual kepada konsumen yang dilakukan pengemudi. Lisensi profesional para pengemudi juga dipertanyakan.

The Guardian pada 23 September 2017 melaporkan, petisi dukungan kepada Uber telah mencapai lebih dari 500.000 tanda tangan. Alasannya, masyarakat membutuhkan layanan murah itu dibanding black cab atawa taksi konvensional yang lebih mahal.

Selain itu, akan ada 40.000 pengemudi Uber hilang kerjaan. Sebagian publik juga marah pada Wali Kota London Sadiq Khan.

Apakah itu akhir cerita dari sharing economy yang dikembangkan Uber?

Sharing economy

Sharing economy atau secara umum collaborative economy beroperasi di atas basis keuntungan efisiensi (efficiency gains) dari proses mengolaborasikan aset-aset yang menganggur (idle asset). Misalnya adalah platform berbagi kamar seperti yang dilakukan Airbnb. Berbagi moda transportasi: Gojek, Uber, Grab dan lainnya. Berbagi finansial: Uang Teman, Gandeng Tangan, dan seterusnya.

Dengan mengolaborasikan aset-aset individual yang menganggur itu, platform tak perlu melakukan investasi infrastruktur seperti dalam model bisnis konvensional. Ia tak perlu mempunyai mobil seperti Bluebird untuk membangun perusahaan transportasi. Juga tak perlu membangun gedung hotel seperti Aston untuk menyelenggarakan layanan penginapan.

Aset-aset itu ia mobilisasi dari masyarakat yang belum didayagunakan (idle). Masyarakat, dalam konteks itu, memperoleh manfaat. Sebagai mitra, ia memperoleh nilai tambah dari penyewaan aset. Sebagai konsumen, ia peroleh harga lebih murah (low price) dibanding layanan konvensional.

Di atas kertas, model bisnis itu terlihat sederhana dan berikan manfaat bagi semua pihak saat pertemukan supply and demand. Bagaimana nyatanya?

Harga murah

Selain potret reaksi masyarakat terkait dilarangnya Uber oleh pemerintah, The Guardian juga merilis opini yang ditulis seorang pengemudi secara anonim.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X