Tahun 2018, Bursa Asia Diprediksi Masih Tetap Melaju

Kompas.com - 19/12/2017, 06:01 WIB
Seorang pria memerhatikan layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (4/8). Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak Rp10,67 triliun dana dari investor asing ditarik dari bursa saham indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras/17 Akbar Nugroho GumaySeorang pria memerhatikan layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (4/8). Dalam tiga bulan terakhir, sebanyak Rp10,67 triliun dana dari investor asing ditarik dari bursa saham indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras/17
|
EditorErlangga Djumena

NEW YORK, KOMPAS.com - Menjelang penghujung tahun 2017, banyak manajer investasi di seluruh dunia memprediksi bahwa bursa saham Asia akan terus menguat pada tahun 2018 mendatang. Penguatan ini didorong solidnya pertumbuhan perekonomian regional.

Kuatnya pertumbuhan ekonomi tersebut juga sejalan dengan solidnya fundamental kinerja korporasi. Pada akhirnya, kondisi ini akan mendorong laba korporasi dalam 12 bulan ke depan.

Mengutip CNBC, Selasa (19/12/2017), sepanjang tahun 2017 bursa saham global telah mengalami reli secara signifikan. Indeks saham global MSCI All Country World Index telah menguat lebih dari 22 persen hingga akhir November 2017 lalu.

Adapun pada periode yang sama, indeks saham Asia Pasifik MSCI All Country Asia Pacific Index naik 29 persen.

Baca juga: Sebentar Lagi, Bursa Berjangka Bitcoin Bakal Hadir di Dunia

Beberapa manajer investasi seperti JP Morgan Asset Management, BlackRock, dan Value Partners memandang saham Asia akan cenderung menguattahun depan.

"Kami berpandangan positif terhadap pasar saham Asia, khususnya negara-negara di Asia bagian utara. Misalnya, China dan Hongkong masih sangat kuat dalam hal laba korporasi," kata Kelly Chung, senior fund manager di Value Partners.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Chung pun menuturkan, PMI atau Purchasing Managers' Index di China masih berada pada kisaran level 50 dan akan terus berada pada level yang kuat di tahun depan. PMI adalah indikator pengukuran kegiatan ekonomi, di mana level 50 ke atas mengisyaratkan ekspansi, sebaliknya adalah kontraksi.

Adapun risiko yang harus dihadapi pasar saham Asia, menurut Chung, adalah inflasi. Pasar ekuitas, sebut dia, kemungkinan akan terdampak apabila inflasi yang meningkat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga acuan.

"Ini adalah risiko terbesar di sebagian besar negara, tidak hanya di Asia namun juga di seluruh dunia," ucap Chung.

Dia juga memperkirakan bank sentral AS Federal Reserve tetap akan menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak tiga kali pada tahun 2018 mendatang.

"Selama The Fed berada pada jalurnya dan pasar mempersiapkan diri dengan baik sebelum kenaikan (FFR), maka saya rasa pasar saham akan baik-baik saja," tutur Chung.




Sumber CNBC
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X