Dampak Keterbatasan Bandara, Potensi Pariwisata di Yogyakarta Hilang 50 Persen

Kompas.com - 28/01/2018, 08:21 WIB
|
EditorSabrina Asril

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - PT Angkasa Pura I memprediksi ada potensi pariwisata dalam jumlah besar yang hilang akibat terbatasnya kapasitas Bandara Internasional Adisutjipto di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Padahal, Yogyakarta tercatat sebagai destinasi wisata nomor dua setelah Bali.

"Potensi pariwisata yang hilang itu luar biasa, kalau mau dipersentasekan hampir 50 persen dari potensi yang ada," kata General Manager Bandara Internasional Adisutjipto, Agus Pandu Purnama, saat ditemui di kantornya pada Jumat (26/1/2018).

Pandu mengungkapkan, penerbangan langsung rute internasional dari dan ke Yogyakarta baru Singapura dan Malaysia. Sementara wisatawan mancanegara lain yang ingin ke Yogyakarta kebanyakan harus melakukan penerbangan transit dulu di Bandara Ngurah Rai di Bali.

Baca juga : AP I: Ada Kemungkinan Bandara Adisutjipto Disamakan dengan Halim

Pandu menceritakan, berdasarkan informasi dari pengusaha travel agent yang dia terima, kebanyakan wisatawan tersebut hanya mampir ke Yogyakarta untuk perjalanan sehari. Selebihnya, mereka kembali ke Bali karena pesawatnya transit di Bali, sehingga waktu berwisata lebih banyak dihabiskan di Bali ketimbang di Yogyakarta.

"Pagi jalan-jalan, malam mereka pulang ke Bali. Hotel dan kuliner tidak ditempati," tutur Pandu.

Tidak adanya rute penerbangan internasional yang lebih dari dua itu dikarenakan kapasitas di Adisutjipto yang sudah maksimal dan tidak bisa dikembangkan lagi. Sehingga, diperlukan bandara baru yang dalam waktu dekat akan dibangun, yaitu New Yogyakarta International Airport di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo.

Baca juga : Adisutjipto, Bandara Paling Crowded dengan Kapasitas Terbatas

Kehadiran NYIA diperkirakan mendongkrak secara signifikan jumlah wisatawan mancanegara ke Yogyakarta, didukung oleh kapasitas maksimal hingga 20 juta penumpang per tahun serta landasan pacu sepanjang 3.600 meter dan lebar 60 meter. Dengan infrastruktur seperti itu, dipastikan maskapai internasional dengan pesawat berbadan lebar (wide body) bisa beroperasi secara leluasa di NYIA.

"Nanti akan ada 50 persen penerbangan dari luar negeri bisa kami adopt di NYIA," ujar Pandu.

 

Kompas TV Ia juga melayani permintaan foto bersama.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.