BI Sambut Baik Penilaian IMF terhadap Perekonomian Indonesia

Kompas.com - 07/02/2018, 11:32 WIB
Gubernur BI Agus Martowardojo memberikan kata sambutan dalam peresmian gedung baru KPw BI di Provinsi Banten.- Gubernur BI Agus Martowardojo memberikan kata sambutan dalam peresmian gedung baru KPw BI di Provinsi Banten.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) menyatakan menyambut baik hasil asesmen Dana Moneter Internasional ( IMF) terhadap perekonomian Indonesia tahun 2017. IMF menilai perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

"Kondisi makroekonomi terjaga sehingga risiko sistemik dapat terkendali," kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam pernyataannya, Rabu (7/2/2018).

Hasil asesmen IMF dimuat dalam Laporan Konsultasi Artikel IV untuk Indonesia 2017, atau Indonesia: 2017 Article IV Consultation. Asesmen ini telah dibahas dalam pertemuan Dewan Direktur (Executive Board) IMF di Washington DC, AS pada 10 Januari 2018.

IMF dalam asesmennya terhadap Indonesia menyatakan saat ini Indonesia berada pada posisi yang baik dalam mengatasi berbagai tantangan sosioekonomi.

Baca juga : Soal Mata Uang Virtual, IMF Minta Kerja Sama Internasional

 

Lebih lanjut, IMF memperkirakan bahwa dengan skenario reformasi fiskal dan reformasi lainnya pertumbuhan potensial Indonesia dapat mencapai 6,5 persen di jangka menengah, yakni tahun 2022.

Para Direktur Eksekutif IMF dalam pertemuan tersebut memuji perekonomian Indonesia dan menyambut baik fokus bauran kebijakan jangka pendek otoritas yang ditujukan untuk mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas.

Dewan Direktur juga memandang positif upaya otoritas yang memfokuskan pengeluaran publik ke sektor-sektor prioritas dan menyambut baik kemajuan investasi infrastruktur di Indonesia.

"Para Direktur Eksekutif IMF menekankan bahwa tahapan reformasi fiskal struktural yang baik harus menjadi prioritas sehingga bisa dilakukan mobilisasi penghasilan negara untuk mendukung kebutuhan pembiayaan pembangunan lainnya," kata Agus.

Baca juga : Gubernur BI: Bali Aman, Persiapan Pertemuan IMF-World Bank Jalan Terus

Ke depan, Dewan Direktur memandang outlook perekonomian Indonesia positif namun menekankan perlunya tetap waspada terhadap berbagai risiko.

Pandangan IMF tersebut sejalan dengan hasil asesmen BI yang meyakini resiliensi perekonomian Indonesia semakin membaik. Inflasi selama 2017 berada pada level yang rendah sebesar 3,61 persen secara tahunan (yoy).

Sehingga, dalam tiga tahun terakhir secara konsisten inflasi berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran. Inflasi yang terjaga pada level yang rendah dan stabil tersebut memberikan suasana yang kondusif bagi upaya penguatan momentum pemulihan ekonomi domestik.

Pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07 persen, ditopang perbaikan investasi infrastruktur oleh pemerintah dan peran investasi swasta. Selain itu, membaiknya resiliensi ditandai oleh neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar rupiah yang stabil.

Baca juga : Ekonomi Indonesia 2017 Tumbuh 5,07 Persen, Tertinggi Sejak Tahun 2014

"Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir 2017 mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu sebesar 130,2 miliar dollar AS," jelas Agus.

Kompas TV Presiden Joko Widodo menegur Kementerian Perdagangan karena angka ekspor Indonesia masih kalah dengan angka ekspor negara negara di Asia Tenggara.




EditorAprillia Ika

Close Ads X