Pertumbuhan Ritel Selama Lebaran Capai 18 Persen - Kompas.com

Pertumbuhan Ritel Selama Lebaran Capai 18 Persen

Kompas.com - 06/07/2018, 13:38 WIB
Sejumlah warga saat berbelanja di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/6/2018). Jelang hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah sejumlah warga mulai memadati pasar Tanah Abang untuk membeli pakaian untuk dijual kembali atau digunakan.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Sejumlah warga saat berbelanja di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/6/2018). Jelang hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah sejumlah warga mulai memadati pasar Tanah Abang untuk membeli pakaian untuk dijual kembali atau digunakan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Penjualan ritel selama Ramadan dan Lebaran 2018 disebut mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan periode sama tahun lalu. 

Pertumbuhan tahun ini diklaim sebagai sebuah hal yang luar biasa oleh Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Roy Mande.

Pasalnya, dalam kurun tiga tahun terakhir pertumbuhan ritel selama Ramadan dan Lebaran tak pernah menyentuh angka 10 persen.

"Pertumbuhan ritel sewaktu Ramadan dan Lebaran kemarin itu 15 persen sampai 18 persen. Biasanya itu hanya 5 persen, jauh dari double digit," kata Roy di Jakarta, Jumat (6/7/2018)

Beberapa indikator disebutkan Roy turut berperan dalam pertumbuhan dua digit tersebut.

"Indikatornya itu yang pertama tunjangan hari raya (THR) yang juga diberikan ke pensiunan dengan nilai mencapai Rp 35 triliun, kemudian gaji ke-13 PNS, dan membaiknya harga komoditas yang berujung pada tambahan pendapatan masyarakat," jelas Roy.

Tak hanya itu, serapan dana desa yang sangat cepat juga ikut berperan dalam pertumbuhan ritel selama periode Ramadan dan Lebaran.

"Serapan yang cepat membuat desa, kabupaten, kota membuat banyak peluang lapangan pekerjaan. Dengan serapan yang cepat itu maka pendapatan masyarakat di sana pun ikut terkerek naik," imbuh Roy. 

Sementara itu, jika dikonversikan ke nilai transaksi, Roy menyatakan ada kurang lebih Rp 45 triliun uang yang ditransaksikan saat Ramadan dan Lebaran 2018.

"Transaksi paling banyak tentunya pada sektor pangan baru sandag sebab orang bisa menahan untuk membeli sandang, tetapi tidak untuk pangan. Selisihnya plus minus lima persen," pungkas Roy.



Close Ads X