Banjir Impor Tekstil dari China, Produsen Minta Pemerintah "Tutup Keran" - Kompas.com

Banjir Impor Tekstil dari China, Produsen Minta Pemerintah "Tutup Keran"

Kompas.com - 28/07/2018, 14:52 WIB
Produk tekstil pada manekin dalam pameran Indo Intertex di JIExpo, Kemayoran Jakarta, pada 4-7 April 2018. Kompas.com/Josephus Primus Produk tekstil pada manekin dalam pameran Indo Intertex di JIExpo, Kemayoran Jakarta, pada 4-7 April 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Produk China mendominasi impor tekstil di Indonesia. Hal ini merupakan imbas dinamika perdagangan dunia.

Hambatan dagang yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) membuat China kelebihan kapasitas. Dengan demikian, China menurunkan harganya secara ekstrim dan membanjiri negara lain, termasuk Indonesia, dengan produk tekstil mereka.

Selain kelebihan kapasitas, ekspor besar-besaran China dikarenakan oleh Yuan sedang melemah. Dengan melalukan ekspor, ekonomi China tetap bertumbuh.

Head of Corporate Communication PT Asia Pacific Fibers Tbk Prama Yudha Amdan mengatakan, hal ini berimbas pada produk dalam negeri yang tertimbun tekstil dari China.

Baca juga: Pelaku Industri Tekstil Harap Ada Pusat Logistik Khusus Benang dan Kain

"Peringatan ini sudah terbaca oleh sejumlah negara di dunia dan mempersiapkan diri dengan instrumen dagang guna melindungi industrinya masing-masing. Indonesia harus bersikap," ujar Yudha melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/7/2018).

Yudha meminta pemerintah tegas menggunakan instrumen dagang yang sah untuk mengamankan dalam negeri dari ancaman perang dagang.

Instrumen seperti bea masuk antidumping atau safeguard sangat relevan untuk menjaga ketahanan industri.

Ia menambahkan, dumping yang dilakukan China merupakan suatu kecurangan sehingga pemerintah berhak memberlakukan bea masuk antidumping kepada negara nakal demi menjaga kedaulatan..

Saat ini, sektor bahan baku benang dan serat polyester Indonesia masih pada posisi net exporter.

Baca juga: Terbongkar, Perusahaan Tekstil yang Selewengkan Fasilitas di Kawasan Berikat

"Artinya, kita masih dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan kapasitas yang ada, bahkan berlebih karena bisa melakukan ekspor," kata Yudha.

Selain itu, fluktuasi harga ini sifatnya jangka pendek sehingga terlalu berisiko jika secara permisif membuka keran impor karena akan merusak tatanan industri lokal yang butuh waktu lama untuk memperbaikinya.

Yudha mengatakan, yang perlu dilalukan pemerintah ke depannya adalah meningkatkan ketahanan manufaktor lokal dan memperbaiki daya saing. Orientasi ekspor harus berbasis pada penguatan rantai Integrasi industri dari hulu ke hilir.

"Pemerintah sedapatnya memprioritaskan produk dalam negeri terlebih dahulu dibanding mengjzinkan impor lroduk yang persis sama," kata Yudha.

Dengan dua langkah tersebut, Yudha meyakini upaya revitalisasi industri tekstil dapat direalisasikan

Kompas TV Berikut wawancara Jurnalis KompasTV My Sister Tarigan dengan Presiden Direktur Sritex, Iwan Setiawan Lukminto.




Close Ads X