Mengapa Penurunan Tingkat Kemiskinan Makin Lambat?

Kompas.com - 31/07/2018, 11:50 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegero menjelaskan rencana penyelenggaraan Indonesia Development Forum (IDF) 2018 saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (29/6/2018). IDF 2018 akan digelar di Jakarta pada 10-11 Juli 2018. Kompas.com/Wisnu NugrohoMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegero menjelaskan rencana penyelenggaraan Indonesia Development Forum (IDF) 2018 saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (29/6/2018). IDF 2018 akan digelar di Jakarta pada 10-11 Juli 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertama kalinya dalam sejarah, tingkat kemiskinan penduduk Indonesia berada pada satu digit, tepatnya 9,8 persen. Hal tersebut merupakan laporan Badan Pusat Statistik yang dipublikasikan Maret 2018. Sementara pada Maret 2017, angka kemiskinan sebesar 10,64 persen.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, belakangan penurunan angka kemiskinan memang melambat. Bandingkan saja, pada 2006, angka kemiskinan 17,8 persen dari total penduduk. Pada 2012, enam tahun setelahnya, jumlahnya turun menjadi 11,96 persen atau turun 5,84 persen.

Sementara dari 2012 ke 2018 dengan rentang waktu yang sama, terjadi penurunan sebesar 2 persen. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengakui, semakin kecil angka kemiskinan, maka, makin sulit diturunkan.

"Justru ketika mengatasi kemiskinan, yang paling susah ketika kemiskinan sudah sangat kecil," ujar Bambang di Jakarta, Senin.(30/7/2018).

Baca juga: Begini Hitung-hitungan Angka Kemiskinan di Indonesia Cara BPS

Apalagi saat mulai mendekati 10 persen, kata Bambang, maka penurunannya tak akan drastis lagi. Hal ini disebabkan tingkat keparahan yang tinggi.

Tingkat keparahan yang dimaksud adalah ketimpangan di antara kelompok miskin itu sendiri. Ada yang benar-benar sangat di bawah dan masuk kategori sangat miskin. Berbeda dengan tingkat kedalaman yakni jarak antara garis kemiskinan dengan rata-rata pengeluaran kelompok miskin.

"Justru ini butuh campur tangan pemerintah yang lebih serius," kata Bambang.

Bambang mengatakan, saat ini kendala pemerintah menjangkau beberapa kelompok miskin karena faktor akses. Banyak dari mereka yang tinggal di pedalaman, di kepulauan, pegunungan, belum lagi yang mengalami gangguan alam.

Hal tersebut tercermin dari tingginya tingkat kemiskinan di daerah Papua dan Nusa Tenggara Timur karena ada kelompok masyarakat yang belum bisa merasakan dampak bantuan langsung tepat sasaran.

Ke depannya, Bambang optimistis angka kemiskinan akan semakin turun meski lambat.

"Kita harus benar-benae entaskan mereka yang belum terjangkau dan jaraknya dari garis kemiskinan sangat jauh," kata dia.

Baca juga: Tiga Faktor yang Membuat Angka Kemiskinan Turun di 2018

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X