Politisi dan Divestasi Freeport

Kompas.com - 07/08/2018, 09:00 WIB
Freeport KOMPAS/AGUS SUSANTOFreeport

Saya punya banyak teman yang berprofesi sebagai politisi. Tentu saja saya bangga dengan kesungguhan teman-teman seperti Refrizal (Fraksi PKS-Sumatra Barat), Akbar Faisal (Fraksi Nasdem, Sulawesi Selatan), atau yang kini duduk di jajaran kabinet, seperti Tjahjo Kumolo, Hanif Dhakiri, Eko Putro Sandjojo dan Asman Abnur.

Mereka benar-benar aktif bekerja, menata, bersilaturahmi, turun ke bawah, melihat dengan mata kepala sendiri dan mencari solusi untuk rakyat kecil, mengawal konstitusi.

Tetapi sebaliknya saya suka tersenyum-senyum setiap kali mendengar teman-teman politisi lain yang bekerja di ladang kata, dan hanya pandai mencela. Apalagi kalau sudah berbicara soal kedudukan orang lain. Atau korporasi besar yang proses divestasinya benar-benar rumit, sulit ditafsirkan hanya dengan olah kata.

Bukannya apa-apa, kita punya pengalaman yang sangat buruk dengan karakter seperti ini. Mungkin mereka bukan "pemain utama" tetapi perspektifnya vested. Menurut kamus perubahan, vested adalah kepentingan yang tertanam kuat sekali sehingga menghambat terjadinya kemajuan (perubahan).

Baca: Luhut Sebut Pihak yang Ributkan Divestasi Freeport Tak Mengerti Dagang

Misalnya saja saat kita sedang berjuang agar gunung emas Freeport bisa segera kembali ke pangkuan ibu pertiwi, ternyata apapun diskusinya “papa tetap minta saham” dan semua eksekutif salah. Saat bangsa membincangkan manfaat E-KTP, mereka mengais-ngais kesempatan.

Demikian juga dengan proyek-proyek infrastruktur, wisma atlet dan lain sebagainya. Sampai-sampai saat memilih komisioner untuk kepentingan publik yang sudah bagus pun mereka goreng juga dengan berbagai alasan kalau konconya tidak lolos.

Mengapa Politisi Suka Berbohong?

Pertanyaan ini bukan hanya ada di sini. Menurut riset yang dilakukan Seth Stephens-Davidowitz (2017), kebohohongan itu bisa dilacak dari jejak-jejak yang ditinggalkan manusia di dunia maya. Semua orang merasa "aman" atas kebohongannya, padahal digital printingnya susah dihapus. Demikianlah ia menyimpulkan.

Saat membahas tentang masa depan ekonomi Inggris pasca-Brexit, teman saya seorang Guru Besar terkemuka Universitas Cambridge juga menandaskan hal serupa. "Selain dipakai dalam kampanye MAGA di AS, kebohongan politisi juga melahirkan Brexit," imbuhnya.

Menurutnya, selalu ada politisi yang membuat proposal untuk mengganti kekuasaan dengan menciptakan kebohongan. "Mereka pasang iklan besar-besar bahwa gara-gara bergabung dengan Uni Eropa, rakyat Inggris setiap hari harus mengeluarkan 1 miliar Poundsterling untuk membiayai pengungsi dari Syria. Saya heran kok rakyat mempercayai bualan bohong itu," tambahnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X