Menko Darmin: Pelemahan Rupiah karena Krisis Argentina

Kompas.com - 31/08/2018, 14:30 WIB

Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menghadiri rapat koordinasi Rancangan Perpres Reforma Agraria yang dipimpin langsung oleh Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution di kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (24/8/2018)
Dok. Humas Menko Bidang Perekonomian Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menghadiri rapat koordinasi Rancangan Perpres Reforma Agraria yang dipimpin langsung oleh Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution di kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (24/8/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa kembali melemahnya rupiah terhadap dollar AS ke level Rp 14.710 lantaran permasalahan yang terjadi di Argentina.

"Ya (pelemahan rupiah ke Rp 14.710) karena ada permasalahan di Argentina. Semua kurs mata uang di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand, itu biasanya hampir enggak tertekan, tapi kemarin juga ikut melemah," kata Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Baca juga: 8 Hal Terdampak Pelemahan Rupiah yang Tembus Rp 14.000 per Dollar AS

Darmin menambahkan, apa yang terjadi di Argentina cukup memberikan kejutan bagi ekonomi dunia. Pasalnya, belum lama ini negara Amerika Latin tersebut mendapatkan bantuan senilai 50 miliar dollar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF).

"Orang anggap kan dia mestinya akan survive, akan selamat dengan itu. Tetapi, ternyata gerakan capital outflow-nya (arus modal keluar) masih sekarat dan makanya dia naikkan tingkat bunga enggak tanggung-tanggung sampai 60 persen," ujar dia.

Meski demikian, Darmin memastikan dampak lainnya dari krisis di Argentina itu terhadap perekonomian dalam negeri tidak akan terlalu besar. Bahkan, kata dia, jauh lebih kecil dibandingkan dampak krisis Turki beberapa waktu silam.

Baca juga: JEO - Poin per Poin Isi Pidato Jokowi soal Ekonomi dan RAPBN 2019

"Lebih sedikit lagi hubungannya dengan Argentina karena dengan Amerika Latin itu hubungannya sedikit sekali, masih lebih kecil daripada hubungan kita dengan Turki," sambungnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah diperdagangkan pada level Rp 14.710 per dollar AS. Angka tersebut lebih rendah 0,2 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada Kamis (30/8/2018) yang berada pada Rp 14.680 per dollar AS.

Baca juga: Rezim Soekarno, Soeharto, dan 20 Tahun Reformasi, dalam Hal Ekonomi




Close Ads X