Penjelasan Sri Mulyani soal Kondisi dan Tantangan Terkini Ekonomi RI - Kompas.com

Penjelasan Sri Mulyani soal Kondisi dan Tantangan Terkini Ekonomi RI

Kompas.com - 15/09/2018, 11:19 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawti saat berbicara di acara Kompas 100 CEO Forum di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/2016). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawti saat berbicara di acara Kompas 100 CEO Forum di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan penjelasan panjang mengenai situasi terkini perekonomian Indonesia melalui laman Facebook-nya.

Dalam unggahan tersebut, Sri Mulyani menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini jutsru menegalami akselerasi setelah dihadapkan pada tekanan lantaran merosotnya harga komoditas dari tahun 2015 hingga 2016.

Namun saat ini, Indonesia juga dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi yang terus berubah secara cepat. Perubahan secara drastis yang terjadi pada neraca pembayaran di tahun 2018 ini, menurut dia harus diwaspadai.

Dia menegaskan, ada empat aspek perekonomian yang harus dikelola dalam menjaga stabilitas dan kelanjutan kemajuan perekonomian menghadapi guncangan dunia tersebut.

"Pertama, aspek sektor riil yang ditunjukkan dengan Indikator pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB). Kedua, aspek fiskal, yaitu APBN meliputi penerimaan, belanja negara dan pembiayaan. Ketiga, aspek moneter serta sektor keuangan, dan keempat, aspek Neraca Pembayaran yaitu keseimbangan eksternal antara perekonomian Indonesia dengan dunia," ujar Sri Mulyani dalam laman Facebook-nya, Jumat (14/9/2018).

Adapun saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2018 berada pada level 5,17 persen, angka tertinggi sejak 2014, dan tingkat pengangguran berada pada posisi 5,13 persen (terendah dalam dua dekade). Di sisi lain, tingkat kemiskinan juga berada pada posisi 9,8 persen (terendah dalam dua dekade).

Dari sisi fiskal, penerimaan negara di semester I 2018 telah mencapai 44 persen dari target, dengan pertumbuhan penerimaan pajak yang membaik mencapai 14,3 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan di semester I 2017 yaitu 9,6 persen.

Realisasi penyerapan belanja negara sampai akhir Juli 2018 mencapai 44 persen, realisasi tranfer ke daerah dan dana desa sebesar 58,6 persen dari pagu.

Defisit sampai akhir Juli 2018 sekitar 1,02 persen dan keseimbangan primer positif 46,4 triliun, suatu kemajuan kesehatan APBN yang luar biasa dibanding situasi 3 tahun terakhir. Konsolidasi fiskal dikakukan untuk meminimalkan dampak lingkungan global terhadap APBN dan meningkatkan ketahanan perekonomian.

Dari sisi moneter, inflasi sangat terjaga pada angka 3,2 persen di semester I 2018, dengan stabilitas inflasi terjaga selama 3 tahun terakhir dikisaran 3,5 persen," lanjut dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menjelaskan, dari sisi sektor keuangan, Indonesia juga menunjukkan situasi yang stabil dan membaik. Tercermin dari tingkat kecukupan modal perbankan (CAR) yang mencapai 22 persen di kuartal II 2018, tingkat kredit macet (NPL) yang tetap rendah sebesar 2,7 persen, dan pertumbuhan kredit mencapai 10,7 persen dan dinilai akan terus membaik.

Secara keseluruhan tahun 2018, rata-rata pertumbuhan kredit diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 12 persen.

Namun, dengan stabilitas kegiatan ekonomi yang dinilai lebih baik tersebut, dari aspek keseimbangan eksternal neraca pembayaran. Indonesia menghadapi perubahan yang sangat drastis pada tahun 2018.

"Inilah yang harus diwaspadai oleh kita semua tanpa harus menjadi panik. Pada tahun 2016 dan 2017, transaksi berjalan (ekspor dikurang impor untuk barang dan jasa) mengalami defisit sebesar 17 miliar dollar AS atau 1,8 persen dari PDB dan 17,3 miliar dollar AS yang setara dengan 1,7 persen dari PDB," jelas Sri Mulyani.

Ia menambahkan, defisit transaksi berjalan tersebut dapat dikompensasi oleh arus modal dan keuangan yang masuk ke Indonesia sebesar 29,3 miliar dollar AS dan 29,2 miliar dollar AS. Sehingga, secara keseluruhan neraca pembayaran masih surplus sebesar 12,1 dollar AS dan 11,6 miliar dollar AS.

"Sehingga cadangan devisa Indonesia meningkat hingga pernah mencapai tertinggi sebesar 132 miliar dollar AS," ujar dia.

Sri Mulyani melanjutkan, memasuki 2018, normalisasi kebijakan moneter menyebabkan pembalikan arus modal dan keuangan dari negara berkembang ke Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan neraca pembayaran mengalami tekanan, karena arus modal ke Indonesia yang sebelumnya mencapai di atas 29 miliar dollar AS di 2016 dan 2017, kini hanya menjadi 6,5 miliar dollar AS pada semester I 2018.


Penurunan tajam arus modal tersebut dihadapkan pada defisit transaksi berjalan pada semester pertama 2018 yang justru meningkat, yaitu sebesar 13,7 miliar dollar AS. Sehingga, secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar 8,2 miliar dollar AS.

"Hal ini menggerus cadangan devisa dan menekan nilai tukar rupiah. Masalah inilah yang sedang ditangani pemerintah," ujar dia.

Komentar
Close Ads X