Staf AirNav Jadi Korban Robohnya Menara ATC saat Bertugas

Kompas.com - 29/09/2018, 12:48 WIB
Menara ATC di bandara Mutiara, Palu yang rusak akibat gempa bumi 7,7 SR pada Jumat (28/9/2018) petang. IstimewaMenara ATC di bandara Mutiara, Palu yang rusak akibat gempa bumi 7,7 SR pada Jumat (28/9/2018) petang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang Air Traffic Controller (ATC) AirNav Indonesia Cabang Palu bernama Anthonius Gunawan Agung menjadi korban meninggal akibat gempa bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Sulawesi Tengah dan sekitarnya, Jumat (28/9/2018).

Dia tetap bertahan di tower ATC hingga Batik Air lepas landas, meskipun pada saat itu gempa sudah mengguncang daerah Palu dan sekitarnya.

Manajer Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait menyatakan bahwa Anthonius merupakan ATC yang bertugas di Tower ATC Bandara Mutiara Sis Al Jufri saat peristiwa gempa itu terjadi.

"Saat gempa terjadi, beliau telah memberikan clearing kepada Batik Air untuk lepas landas dan menunggu pesawat tersebut airbrone dengan selamat sebelum akhirnya meninggalkan cabin tower ATC," jelas Yohanes dalam pernyataan resminya, Sabtu (29/9/2018).

Adapun pesawat Batik Air yang dipandu dipiloti oleh Capt. Ricosetta Mafella, pilot penerbangan Batik Air penerbangan ID6231.

Pesawat Airbus A320 yang diawakinya tinggal landas (takeoff) saat gempa bumi melanda Palu pada Jumat (28/9/2018) petang lalu, sebelum menara ATC bandara roboh.

Diceritakan oleh Capt. Fella, hari itu adalah hari terakhirnya terbang di Batik Air, lusa ia sudah kembali ke Lion Air (Batik Air dan Lion Air tergabung dalam Lion Group). Saat di bandara Mutiara, Palu, sesaat sebelum keberangkatan, Capt. Fella meminta quick handling, sesuatu yang tidak biasa ia minta kepada ground handling.

"Entah kenapa kayak diingetin harus buru-buru terbang," tulisnya. Penerbangan Batik Air ID6231 melayani rute Palu-Makassar, dijadwalkan terbang pada pukul 5.55 waktu setempat.

Saat mendapat izin untuk takeoff, pesawat mulai rolling di runway, Capt. Fella merasakan pesawat bergerak ke kanan dan kiri, getaran terasa mendatar, bukan vertikal. Ia belum menyadari bahwa apa yang dialaminya saat rolling untuk takeoff itu adalah gempa yang sedang melanda di bandara Mutiara, Palu.

"Tetapi karena di cockpit fokus untuk airborne phase, jadi tetap dilaksanakan karena gak mengganggu," tulisnya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.