Memahami Rupiah Lewat Pendekatan Aeronautical Habibie

Kompas.com - 09/10/2018, 13:04 WIB
Mantan Presiden BJ Habibie meninggalkan lokasi usai sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2017). Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato, yakni pidato kenegaraan dalam rangka Hari Ulang Tahun RI ke 73.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELMantan Presiden BJ Habibie meninggalkan lokasi usai sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2017). Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato, yakni pidato kenegaraan dalam rangka Hari Ulang Tahun RI ke 73.

"Sebetulnya kalau mau di lihat ekonomi sekarang yang demikan besar triliunan dollar dan globalisasi itu, ekonomi itu pesawat udara, pesawat jet. Makanya Pak Habibie ingin jangan sampai dia crash. Karena kalau crash itu berarti konstruksinya hancur," sambung Umar.

Dengan pendekatan aeronautical itulah Habibie mengambil kebijakan-kebijakan saat menggantikan Soeharto sebagi Presiden RI ke-3 pada 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.

Eksekusi dan hasilnya

Meski umur masa pemerintahnya tak panjang, BJ Habibie dikenal sebagai pionir reformasi di bidang ekonomi.

Umar mengatakan, Habibie memahami betul bahwa masalah ekonomi 1998 tak lagi sebatas ekonomi semata namun sudah menjalar ke krisis kepercayaan atau trust.

Misalnya dalam kasus IMF yang meminta pemerintah menutup 16 bank pada 1 November 1997, termasuk bank yang dimiliki keluarga Presiden Soeharto. Tujuannya, kepercayaan rakyat kepada pemerintah muncul.

Namun pasar menyambut negatif keputusan itu. Masyarakat malah panik dan berbondong-bondong menarik dananya dari bank.

Baca juga: Titip Asa Dirgantara pada Pesawat R80 Habibie (Bagian IV - Terakhir)

Untuk menghentikan rush, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) terpaksa mengambil dua langkah. Pertama, menjamin 100 persen semua simpanan di bank. Kedua, menaikkan suku bunga deposito hingga 60 persen.

"Makanya saat IMF mengatakan IMF yang mendikte, Pak Habibie bilang 'Jangan mendikte Anda, saya tahu bahwa kami butuh kredibilitas'. Jadi dia enggak hanya menerima gitu aja. Masalahnya bukan masalah ekonomi lagi, tapi juga emosional," ucap Umar.

Oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintahan Habibie memiliki basis untuk mengembalikan kepercayaan kepada ekonomi nasional.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X