OJK: NPL Fintech P2P Lending Ada Dikisaran 1 Persen

Kompas.com - 21/10/2018, 05:45 WIB
Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK, Hendrikus Passagi di Bogor, Jumat (18/10/2018) KOMPAS.com/ Putri Syifa NurfadilahDirektur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK, Hendrikus Passagi di Bogor, Jumat (18/10/2018)

BOGOR, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) mengatakan rasio non-performing loan (NPL) teknologi finansial (fintech) berbasis peer-to-peer (P2P) lending berada di kisaran 1 persen.

"NPL P2P lending itu berkisar di 1 persen. Kadang-kadang 0,9. Sempat naik ke 1 persen, naik lagi 1,2 persen, 1,3 persen, kemudian turun lagi,” ujar Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan OJK, Hendrikus Passagi di Bogor, Sabtu (20/10/2018).

Dia menjelaskan, NPL tersebut naik turun karena pelaku fintech P2P lending bertambah setiap bulannya.

“Jadi ada yang baru. Pemain baru ini belum begitu memahami environment investasinya. Kadang-kadang NPL-nya lebih tinggi, tapi setelah 1-3 bulan turun lagi," tutur Hendrikus.

Untuk itu, OJK mengimbau kepada seluruh perusahaan fintech P2P lending yang sudah terdaftar untuk selalu melaporkan NPL-nya secara rutin. Hal ini dilakukan agar NPL para pemain bisnis ini dapat dikontrol oleh OJK sebagai regulator.

“Kami mewajibkan semua fintech P2P lending yang terdaftar di OJK itu harus selalu melaporkan posisi NPL-nya dari waktu ke waktu. Kalau ada penyelenggara fintech P2P yang mungkin lalai belum melaporkan NPL-nya maka laporkan ke kami. Karena itu kewajiban," jelas Hendrikus.

Pelaporan NPL ini sangat diperlukan untuk mengetahui besaran keseluruh secara umum NPL fintech P2P lending. Namun demikian, pihaknya telah memberikan batas besaran NPL untuk seluruh perusahan fintech P2P lending.

"Kalau selama ini kan data kita menunjukan kisaran 1 persen, atau dengan kata lain 1 persen jangan melampaui 2 persen,” ujarnya.

Hendrikus menerangkan bahwa besaran NPL ini tidak terlalu relevan pada industri P2P lending. Ini karena NPL pada P2P lending berbeda dengan perbankan. Walaupun begitu, pihaknya tetap menghitung besaran NPL para pemain untuk memonitor performa mereka.

“Tetap kami hitung (NPL), karena ini merupakan alat monitoring OJK seberapa bagus untuk skor industri ini,” jelasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X