Ingin Investasi Jangka Panjang? Coba Reksa Dana Ini

Kompas.com - 15/11/2018, 05:43 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring dengan perkembangan pasar modal yang semakin positif, masyarakat dapat memanfaatkan momentum ini dengan berinvestasi melalui reksa dana saham.

Head of Wealth Management and Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan, investasi di reksa dana pasar saham ini untuk mereka yang ingin berinvestasi jangka panjang.

“Kami merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan bagi nasabah yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang,” ujar Ivan dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Rabu (14/11/2018).

Ivan mengatakan, investor asing mulai memborong portofolio saham dan obligasi di Indonesia. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut di tahun politik 2019. Isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China pun telah mereda.

Baca juga: AAJI: Reksa Dana Masih Jadi Portofolio Favorit untuk Investasi

Pada bulan Oktober lalu, pasar saham dan pasar obligasi Indonesia mengalami koreksi. IHSG terkoreksi 2,42 persen atau sebesar 8.24 persen (year to date/ytd).

Walaupun demikian Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini mencatat bahwa ekonomi Indonesia di kuartal III-2018 tumbuh 5,17 persen year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari kuartal III-2017 yang sebesar 5,06 persen yoy, tapi masih lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II-2018 yang sebesar 5,27 persen yoy.

"Indonesia juga sukses menjadi tuan rumah untuk perhelatan dua acara berskala internasional, Asian Para-Games di Jakarta dan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – World Bank di Bali. Pertemuan tahunan IMF-WB berhasil dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia dengan mendapatkan direct investor untuk pembiayaan proyek pembangunan infrastruktur," sebut Ivan.

Indonesia pun berhasil mengantongi kesepakatan investasi sebesar 13,5 miliar dollar AS untuk pengembangan proyek infrastruktur dari pertemuan tersebut.

Sentimen positif lainnya adalah neraca perdagangan Indonesia bulan September lalu juga secara tidak terduga mencatat surplus 227 miliar dollar AS, ketika konsensus memperkirakan akan terjadi defisit. Sentimen positif lainnya datang dari laporan keuangan emiten untuk kuartal III-2018 yang tercatat positif, tertinggi sejak tahun 2011 untuk satu kuartal.

"Di tingkat global, para investor melihat ekonomi Tiongkok sebagai raksasa ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini tumbuh melambat. Biro Statistik Nasional Tiongkok merilis data pertumbuhan ekonomi Tiongkok tumbuh 6, persen year on year (yoy) pada kuartal-III 2018, lebih rendah dari yang diharapkan," lanjut dia.

Di lain pihak pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang positif dan kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang semakin ketat, meningkatkan peluang bagi The Fed untuk kembali menaikan suku bunga di penghujung tahun 2018.

“Kenaikan suku bunga yang disertai oleh pertumbuhan ekonomi umumnya positif untuk pasar saham sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70 persen di dalam portofolio,” ujar dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X