Otoritas Pasar Modal Pantau Saham IPO yang Melonjak Drastis - Kompas.com

Otoritas Pasar Modal Pantau Saham IPO yang Melonjak Drastis

Kompas.com - 21/11/2018, 06:00 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas pasar modal tampaknya tidak tinggal diam saat melihat lonjakan saham-saham baru yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak cukup tajam.

Pasalnya lonjakan saham initial public offering tersebut ada yang mencapai 69 persen pada perdagangan hari pertama.

Ini menyebabkan sistem auto reject atas atau pemberhentian perdagangan sementara pada saham-saham IPO tersebut kerap terjadi. Di sisi lain, ini menjadi pertanyaan banyak pihak apakah memang pembentukan harga saham di pasar sekunder menjadi tidak masuk akal.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus oleh otoritas terkait pasar modal seperti Otoritas Jasa Keangan (OJK) dan BEI. Dua instansi tersebut tengah menyiapkan jurus agar lonjakan harga saat perdagangan perdana menjadi lebih normal.

Bahkan pihaknya pun tengah menyiapkan rencana untuk merevisi aturan auto reject atas (ARA) dan auto reject bawah (ARB).

Sekadar informasi, berdasarkan catatan Kontan.co.id, empat emiten baru yang tercatat di BEI harganya langsung melonjak hingga 68,89 persen. PT Kota Satu Properti Tbk (SATU) tercatat saham perdana mereka lompat 69 persen, PT Shield On Service Tbk (SOSS) naik 50 persen, PT Dewata Freight International Tbk (DEAL) naik 69 persen dan yang terbaru yakni PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) melompat 68,89 persen.

Lebih lanjut, untuk aturan auto reject yang ada di BEI yakni ARA dan ARB untuk perubahan saham 35 persen bagi saham dengan rentang harga Rp 50 sampai Rp 200, 25 persen bagi saham dengan rentang harga Rp 200 sampai Rp 5.000 dan 20 persen bagi saham dengan rentang harga di atas Rp 5.000. Sedangkan ARA saham IPO ditetapkan sebesar 50 persen di hari pertama.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Hoesen mengatakan, pihaknya memang sedang melakukan pemantauan dan melakukan pengawasan terkait tren kenaikan saham perdana yang sangat melonjak ini.

“Salah satunya dengan sistem electronic book building. Kami sedang memonitor dan mencari cara untuk mitigasi ini,” ujarnya saat di temui di BEI, Senin (19/11).

Untuk diketahui, yang menjadi perhatian khusus adalah besaran penjatahan saham atau fixed allotment dan pooling allotment yang memberikan jatah bagi investor institusi dan ritel untuk saham IPO. Pengaturan besaran ini disinyalir dapat menjadi solusi untuk menciptakan harga saham perdana yang lebih objektif saat masuk ke pasar sekunder.

Ditemui di tempat yang sama I Gede Nyoman Yetna, Direktur BEI mengatakan, salah satu cara untuk membuat pembentukan harga (pricing) yang lebih stabil memang dengan sistem electronic book building. Ini juga bagian dari pengawasan BEI terhadap mekanisme IPO.

Dalam sistem ini akan diatur mekanisme penyebaran saham melalui allotment atau penjatahan yang lebih menyebar sehingga pricing akan jauh lebih objektif dan lonjakan harga tidak setinggi sekarang.

Menurutnya, salah satu penyebab yakni mekanisme permintaan dan penawaran yang tidak seimbang di hari pertama yang membuat harga melompat drastis. Dengan electronic book building persediaan barang atau saham akan terjaga.

“Benchmark kami ada di bursa luar yang biasanya lonjakan IPO hanya sebesar 20 persen sampai 30 persen. Kami juga sedang melakukan kajian terkait ARA untuk saham IPO,” ujar Nyoman.

Terkait besarannya yang 50 persen, kecenderungannya akan mengarah kepada benchmark tersebut. Diharapkan di tahun 2019 dapat dipastikan perubahannya seperti apa.

Selain itu, BEI juga akan memantau kinerja dari anggota bursa yang berperan sebagai underwriter. Itu dikarenakan mereka ikut bertanggung jawab atas pembentukan harga ini.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Otoritas pasar modal pantau saham IPO yang melonjak drastis



Close Ads X