Menurut Boediono, Ini Dampak Positif dan Negatif Perang Dagang Bagi RI

Kompas.com - 28/11/2018, 18:20 WIB
Mantan Wakil Presiden Boediono di Universitas UI, Jumat (13/4/2018). KOMPAS.com/IhsanuddinMantan Wakil Presiden Boediono di Universitas UI, Jumat (13/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China diprediksi akan terus berlanjut meski kedua bela pihak akan melakukan pertemuan pada KTT G20 di Buenos Aires, Argentina pekan ini.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden ke-11 Boediono mengatakan, perang dagang antara dua negara ekonomi raksasa ini akan memberikan dampak positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia.

Menurut dia, ekspor yang menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan menurun. Pasalnya, AS dan China merupakan dua negara pangsa ekspor utama Indonesia.

Dengan diterapkannya tarif impor oleh Amerika Serikat dan China terhadap beberapa produk ekspor masing-masing negara, terdapat kemungkinan negara-negara penghasil barang-barang yang diberi tarif impor mereka mencari pasar baru, termasuk ke Indonesia.

Baca juga: Indonesia Akan Angkat Isu Perang Dagang di KTT G-20

"Negara penghasil barang-barang ini yang dulunya bisa masuk ke Amerika atau negara yang biasa membeli, karena ada rambu-rambu tarif dan sebagainya mereka mencari pasar baru sehingga harus siap ada serangan ini dipasarkan ke kita," ujar Boediono dalam acara KataData Forum di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Namun, tidak menutup kemungkinan perang dagang memberikan dampak positi ke Indonesia. Sebab, dengan berlakunya tarif impor tersebut akan menekan ongkos produksi untuk produk-produk buatan pabrik China.

Sehingga, diharapkan arus investasi dapat mengalir ke negara-negara yang dianggap aman seperti di Indonesia.

"Tapi ada yang positif. Misal China tidak bisa produksi atau pabrik-pabriknya enggak bisa produski karena made in China investasi ini bisa bergerak ke Indonesia. Moga moga aja ada," jelas mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini.

Baca juga: Ada Perang Dagang, Perusahaan Indonesia Tetap Optimistis

Boediono juga menjelaskan, perang dagang yang terjadi antara lantaran ekonomi dunia memang rentan terhadap krisis. Sebab, ekonomi global menganut sistem ekonomi pasar atau kapitalisme dengan rambu-rambu abad ke-19 yang tidak terkoordinir.

Tidak seperti ekonomi nasional dengan pemerintahan dan rambu-rambu yang jelas. Menurut Boediono, tidak ada yang benar-benar bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada perekonomian global.

"Oleh sebab itu rawan terhadap krisis kalau ekonomi nasional kita punya institusi yang bisa koordinasikan secara baik kebijakan makro, fiskal, moneter, structural reform dan sebagainya itu bisa menurunkan risiko dari instabillitas maupun krisis dalam satu ekonomi. Di global enggak ada ini, jadi enggak ada yang tanggung jawab atas perkembangan krisis, semua bingung, enggak ada yang bisa koordinir," ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi Mau Larang Ekspor Timah dan Bauksit Tahun Ini

Jokowi Mau Larang Ekspor Timah dan Bauksit Tahun Ini

Whats New
Ditawari Gabung ICAO, Menhub: Kemajuan Sektor Penerbangan Kita Diakui Dunia Internasional

Ditawari Gabung ICAO, Menhub: Kemajuan Sektor Penerbangan Kita Diakui Dunia Internasional

Whats New
IFG: Dana Pensiun Bisa Kurangi Ketergantungan RI dari Modal Asing

IFG: Dana Pensiun Bisa Kurangi Ketergantungan RI dari Modal Asing

Whats New
Berlaku Hari Ini, Simak Aturan Lengkap Syarat Perjalanan Dalam Negeri dengan Kapal Laut

Berlaku Hari Ini, Simak Aturan Lengkap Syarat Perjalanan Dalam Negeri dengan Kapal Laut

Whats New
Atasi Wabah PMK, Kementan Kirim Obat-obatan Senilai Rp 534,29 Juta ke Beberapa Wilayah

Atasi Wabah PMK, Kementan Kirim Obat-obatan Senilai Rp 534,29 Juta ke Beberapa Wilayah

Whats New
LKPP Segera Terbitkan Aturan Pengadaan Barang Jasa Khusus IKN

LKPP Segera Terbitkan Aturan Pengadaan Barang Jasa Khusus IKN

Whats New
Gelar Halalbihalal, J99 Corp Beri Apresiasi pada Karyawan Terbaik

Gelar Halalbihalal, J99 Corp Beri Apresiasi pada Karyawan Terbaik

Whats New
Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

Eropa Bingung Bayar Impor Gas dari Rusia

Whats New
Lin Chen Wei Tersangka Kasus Ekspor CPO, Anggota DPR Minta Kementerian yang Gunakan Jasanya Beri Klarifikasi

Lin Chen Wei Tersangka Kasus Ekspor CPO, Anggota DPR Minta Kementerian yang Gunakan Jasanya Beri Klarifikasi

Whats New
Tren Belanja Kuartal I-2022, Tokopedia: Masker Kesehatan Laris Manis

Tren Belanja Kuartal I-2022, Tokopedia: Masker Kesehatan Laris Manis

Whats New
Harga Sawit Petani Anjlok, Tapi Ironinya Minyak Goreng Tetap Mahal

Harga Sawit Petani Anjlok, Tapi Ironinya Minyak Goreng Tetap Mahal

Whats New
Prokes Dilonggarkan, Simak Syarat Perjalanan Lengkap Kereta Api Terbaru

Prokes Dilonggarkan, Simak Syarat Perjalanan Lengkap Kereta Api Terbaru

Whats New
Shopee Tebar Diskon Hingga 60 Persen untuk Produk Kebutuhan Rumah

Shopee Tebar Diskon Hingga 60 Persen untuk Produk Kebutuhan Rumah

Spend Smart
Larangan Ekspor Belum Mempan, Harga Minyak Goreng Masih Saja Mahal

Larangan Ekspor Belum Mempan, Harga Minyak Goreng Masih Saja Mahal

Spend Smart
Kemenkominfo Gelar Startup Gathering Road to Hub.id Summit 2022

Kemenkominfo Gelar Startup Gathering Road to Hub.id Summit 2022

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.