Harbolnas Justru Dinilai Menguntungkan Pihak Asing, Mengapa?

Kompas.com - 11/12/2018, 16:24 WIB
Harbolnas 2018Website harbolnas Harbolnas 2018

KOMPAS.com – Hari Belanja Online Nasional yang jatuh pada Rabu (12/12/2018) digadang-gadang oleh pemerintah akan membantu perekonomian nasional dan menggerakkan bisnis mikro yang ada di kalangan akar rumput.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan menyebut terdapat banyak produk lokal yang dijual saat gelaran Harbolnas 2018.

Namun, menurut pengamat e-commerce, Mochamad James, keuntungan yang didapat oleh pihak lokal tidak seberapa banyak dibandingkan dengan pihak asing.

"Kalau melihat online store yang ada apalagi yang besar-besar, itu mayoritas yang dijual di situ produk-produk impor," kata James saat dihubungi Kompas.com, Selasa (11/12/2018).

"Ironis sebetulnya, karena gegap gempita Harbolnas yang didukung pemerintah ini pada akhirnya yang menikmati bukan UMKM kita," ujar dia.

Jumlah pameran untuk UMKM tersedia namun tidak sebanding dengan banyaknya toko during yang menyediakan produk-produk dari luar negeri.

Baca juga: Harbolnas 2018, Ajang Belanja "Online" untuk Dukung Produk Nasional

Ilustrasi berbelanja online.Dok. Visa Ilustrasi berbelanja online.
Selain itu, menurut James, tidak hanya dari sisi produk, sistem pembayaran cashless, pemodal e-commerce juga berasal dari pihak asing.

"Jadi dengan komposisi pasar dan pemodal yang seperti itu, kegiatan online shopping yang sedang berlangsung ini lagi-lagi yang menikmati ‘kue’ terbesarnya ya pemodal asing. Kita cuma jadi pasar saja, tempat mereka mengeruk uang," ucap James.

Menurut lelaki pemilik sebuah perusahaan teknologi informasi ini, keadaan yang demikian menyebabkan capital outflow atau modal yang mengalir keluar dari sebuah perekonomian dalam jumlah besar.

Ia menyarankan pemerintah untuk tidak terlalu mudah menggadaikan regulasi demi sebuah investasi. Misalnya, dengan membatasi pemilikan modal asing (PMA) dalam bidang kepemilikan penyedia pembayaran (payment).

Hal lain, misalnya regulasi impor barang-barang remeh-temeh yang masih bisa diproduksi sendiri oleh dalam negeri, seperti kerudung.

"Sekarang misalnya, kerudung saja lebih murah beli yang impor," ucap James.




Close Ads X