Dibayangi Perang Dagang, Boeing Buka Pabrik Pesawat di China

Kompas.com - 16/12/2018, 07:30 WIB
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEARPesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

ZHOUSAN, KOMPAS.com - Pabrikan pesawat Boeing Co membuka pabrik pesawat seri 737 pertamanya di China, Sabtu (15/12/2018). Ini dilakukan meski AS dan China masih dalam tahap gencatan perang dagang.

Dikutip dari Reuters, Minggu (16/12/2018), pembukaan pabrik ini adalah investasi strategis Boeing. Tujuannya tidak lain adalah untuk membangun kepemimpinan penjualan terhadap pesaing terberatnya, Airbus.

Boeing pun mengirimkan pesawat seri 737 pertamanya yang dirakit di pabrik di Zhousan, sekira 290 km tenggara Shanghai. Pesawat tersebut merupakan pesanan maskapai Air China.

Boeing dan Airbus memperluas jejak mereka di China, sejalan dengan ambisi memenangkan pesanan dari pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia tersebut. China diprediksi bakal menyalip AS sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia dalam satu dekade mendatang.

Baca juga: Lion Air Makin Yakin Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing

Boeing menanam investasi sebesar 33 juta dollar AS pada tahun 2017 untuk menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan aviasi Commercial Aircraft Corp of China (COMAC) untuk membangun pusat perakitan, yang merakit interior dan mengecat badan pesawat.

Pada tahun 2017 lalu, Boeing mengklaim melakukan pengiriman 1 dari 4 pesawat jetliner produksinya ke China. Boeing pun memprediksi permintaan 7.700 pesawat seri 737 dalam 20 tahun mendatang dengan nilai 1,2 triliun dollar AS.

Namun, peresmian pabrik baru Boeing tersebut dihantui perang dagang AS dan China. Dua ekonomi terbesar dunia tersebut kini dalam masa gencatan 90 hari untuk menegosiasi perjanjian perdagangan.

"Apakah saya gugup dengan situasi ini? Ya, tentu saja. Lingkungan (bisnis) sangat menantang. Kita harus tetap mewaspadai laju permainan di China. Dalam jangka panjang, saya rasa kita bisa melaluinya," ujar John Bruns, Presiden Direktur Boeing China.

Bruns mengaku optimistis dengan perundingan perdagangan antara AS dan China.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X