Bank Dunia: Laju Pertumbuhan Ekonomi Global 2019 Melemah

Kompas.com - 09/01/2019, 10:15 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Laju pertumbuhan ekonomi global diproyeksi akan melemah. Bank Dunia pun merevisi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019 ini jadi 2,9 persen dari 3 persen di 2018 lalu.

Berbagai hal yang menjadi pertimbangan Bank Dunia terkait perlambatan laju pertumbuhan ekonomi tersebut adalah melemahnya aktivitas perdagangan dan manufaktur dunia, masih tingginya  ketegangan perdagangan, dan beberapa negara berkembang besar harus menghadapi tekanan pasar keuangan.

Pertumbuhan di negara-negara maju akan terkoreksi menjadi 2 persen tahun ini, lantaran permintaan yang semakin melemah, biaya utang yang semakin tinggi, serta ketidakpastian dalam berbagai kebijakan yang akan menekan outlook dari pasar dan negara berkembang.

Baca juga: Mengelola Dilema Mengejar Pertumbuhan Ekonomi di 2019

 

Dikutip dari rilis resmi Bank Dunia, Rabu (9/1/2019), laju pertumbuhan ekonomi negara berkembang akan lebih lambat dari yang diperkirakan, yaitu 4,2 persen tahun ini.

"Di awal tahun 2018 pertumbuhan ekonomi global melaju dengan pesat, namun mulai kehilangan lajunya seiring dengan berjalannya waktu, dan perjalanan akan semakin bergejolak setahun ke depan," ujar CEO Global Bank Dunia Kristalina Georgiva.

Georgiva menjelaskan, semakin meningkatnya gejolak di pasar keuangan negara berkembang akan mengancam upaya dunia dalam mengurangi kemiskinan.

Baca juga: IMF: Perang Dagang Lukai Pertumbuhan Ekonomi Asia

"Untuk menjaga momentum tersebut, negara-negara di dunia harus berinvestasi pada sumber daya manusia, menjaga pertumbuhan yang inklusif, dan membangun masyarakat yang tangguh," ujar dia.

Di dalam rilis tersebut, Bank Dunia juga menegaskan beberapa hal yang bisa menjadi rem bagi pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Pengetatan biaya pinjaman yang lebih besar dapat menekan aliran modal masuk dan menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat di banyak pasar dan negara ekonomi berkembang.

Peningkatan utang pemerintah dan swasta di masa lalu juga bisa meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kondisi keuangan dan sentimen pasar, selain itu, mengintensifkan ketegangan perdagangan bisa semakin menekan pertumbuhan ekonomi dan mengganggu rantai nilai yang salin terhubung secara global.

Baca juga: Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi China di Bawah 6 Persen

Di dalam rilis tersebut juga disebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bertahan pada 5,2 persen, sedangkan ekonomi China akan melambat di 6,2 persen dari 6,5 persen tahun lalu. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Thailand jga akan melambat 3,8 persen 2019 ini.

Adapun Amerika Serikat, yang saat ini tengah melakukan negosiasi dagang akibat konflik perdagangan dengan China, akan mengalami perlambatan laju pertumbuhan ekonomi dari 2,9 persen tahun lalu menjadi 2,5 persen tahun ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lengkap, Ini Update Tarif Listrik per 1 Juli 2022 Usai Kenaikan

Lengkap, Ini Update Tarif Listrik per 1 Juli 2022 Usai Kenaikan

Whats New
Simak 2 Langkah Mudah Sisihkan Dana untuk Kurban Idul Adha

Simak 2 Langkah Mudah Sisihkan Dana untuk Kurban Idul Adha

Spend Smart
Kemenhub Evaluasi Regulasi Harga Tiket Pesawat, Maskapai Bisa Naikkan Tarif Batas Atas

Kemenhub Evaluasi Regulasi Harga Tiket Pesawat, Maskapai Bisa Naikkan Tarif Batas Atas

Whats New
Mitigasi Perubahan Iklim Mahal, Kemenkeu: Dana Pemerintah untuk Transisi Energi Tidak Cukup...

Mitigasi Perubahan Iklim Mahal, Kemenkeu: Dana Pemerintah untuk Transisi Energi Tidak Cukup...

Whats New
YLKI Khawatir Konsumen Buru Rokok Murah, Jika Batasan Produksi Tak Diubah

YLKI Khawatir Konsumen Buru Rokok Murah, Jika Batasan Produksi Tak Diubah

Whats New
[POPULER MONEY] Beli Elpiji 3Kg Juga Pakai MyPertamina? | 10 Tempat Kerja Terbaik di Indonesia

[POPULER MONEY] Beli Elpiji 3Kg Juga Pakai MyPertamina? | 10 Tempat Kerja Terbaik di Indonesia

Whats New
Pemerintah Dinilai Perlu Cepat Turun Tangan Atasi Kenaikan Harga Avtur

Pemerintah Dinilai Perlu Cepat Turun Tangan Atasi Kenaikan Harga Avtur

Whats New
Ditjen Pajak: Peserta PPS Meningkat Sangat Signifikan dalam 24 Jam

Ditjen Pajak: Peserta PPS Meningkat Sangat Signifikan dalam 24 Jam

Whats New
Emiten Pengelola Lucy in The Sky Ekspansi Gerai di Baru di Cikini

Emiten Pengelola Lucy in The Sky Ekspansi Gerai di Baru di Cikini

Whats New
Begini Langkah INACA untuk Bantu Pemulihan Industri Penerbangan

Begini Langkah INACA untuk Bantu Pemulihan Industri Penerbangan

Whats New
Daftar MyPertamina, Boleh Lebih 1 Kendaraan dalam 1 Akun

Daftar MyPertamina, Boleh Lebih 1 Kendaraan dalam 1 Akun

Whats New
Pertamina: 60 Persen Orang Kaya Nikmati BBM Subsidi

Pertamina: 60 Persen Orang Kaya Nikmati BBM Subsidi

Whats New
INACA Ungkap Tantangan yang Dihadapi Maskapai Penerbangan Saat Ini, Apa Saja?

INACA Ungkap Tantangan yang Dihadapi Maskapai Penerbangan Saat Ini, Apa Saja?

Whats New
Simak 3 Tips agar UMKM Tembus Pasar Global

Simak 3 Tips agar UMKM Tembus Pasar Global

Work Smart
Pemerintah Diminta Beri Insentif buat Produk Keuangan 'Hijau', Ini Alasannya

Pemerintah Diminta Beri Insentif buat Produk Keuangan "Hijau", Ini Alasannya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.