Kritik The Economist ke Pemerintah Jokowi, Suara Resah Ekonom

Kompas.com - 28/01/2019, 10:50 WIB
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira saat ditemui usai diskusi di Jakarta, Sabtu (28/4/2018).KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira saat ditemui usai diskusi di Jakarta, Sabtu (28/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Majalah internasional The Economist mengkritik kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo di bidang ekonomi. Salah satunya terkait pertumbuhan ekonomi yang disebut tak sesuai janji kampanye Jokowi pada 2014 silam.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, kritik yang diberikan oleh The Economist tak berbeda jauh dari suara para ekonom.

"Kritik The Economist sama dengan yang disuarakan ekonom atas fenomena deindustrialisasi yang terus terjadi. Indonesia belum jadi negara sukses dibidang industri tapi langsung loncat ke jasa," ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta, Senin (28/1/2019).

Menurut Bhima, porsi industri manufaktur anjlok di bawah 20 persen terhadap PDB di kuartal III 2018. Hal ini dinilai perlu menjadi perhatian lebih pemerintah sebab akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Kinerja Ekonomi Indonesia Dikritik The Economist, Ini Komentar Istana

Dia mengatakan, Indonesia pernah alami deindustrialisasi yg masif ditahun 2001 yakni mencapai porsi 29 persen. Akibatnya kualitas pertumbuhan ekonomi jadi rendah.

"Harusnya Indonesia bisa tumbuh 5,5 persen per tahun tapi saat ini 5,1 persen saja sudah ngos-ngosan," kata dia.

Menurut dia, kritik The Economist harus dijadikan masukan penting bagi pemerintah agar bisa melakukan evaluasi di tahun terakhir pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

"Kritik The Economist sebaiknya jangan disangkal tapi dijadikan masukan bagi pemerintah untk memperbaiki kinerja ekonomi kedepannya," kata dia.



Close Ads X