KILAS EKONOMI

Memprediksi Keuntungan Inalum Usai Mencaplok Freeport

Kompas.com - 15/02/2019, 17:03 WIB
Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin saat membuka Technology Improvement Seminar (TIS) di Tanjung Gading. Dok. Humas PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin saat membuka Technology Improvement Seminar (TIS) di Tanjung Gading.

KOMPAS.com - Perusahaan Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) telah merampungkan akusisi 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI) pada akhir 2018 lalu.

Sejumlah pihak mempertanyakan manfaat dan pemasukan keuntungan Inalum saat PTFI baru akan mulai membagikan deviden pada 2021 mendatang.

Pertama, proses peralihan dari pertambangan terbuka ke pertambangan bawah tanah dari 2019 ini hingga 2022 membuat operasional diperkirakan tidak dalam kondisi normal. Dengan demikian, produksi diprediksi turun.

Menurut dokumen Inalum, laba bersih PTFI diperkirakan akan turun drastis dibawah 1 miliar dollar AS sebelum menanjak kembali ke kisaran di atas 2 miliar dollar AS pada 2023 hingga 2041.

Sebelumnya, Inalum telah mengeluarkan 3,85 miliar dollar AS untuk meningkatkan saham mereka di PTFI dari 9,36 persen menjadi 51,2 persen. Melalui porsi kepemilikan tersebut, Inalum diproyeksikan akan mendulang sekitar 18 miliar dollar AS dari laba bersih PTFI dari 2023 hingga 2041.

Selain itu, berdasarkan perhitungan Inalum, emas di tambang Grasberg Kabupaten Mimika, Papua, diperkirakan tidak akan habis hingga 2070. Pasalnya, ada beberapa bagian di tambang tersebut yang sudah terbukti ada emasnya, tapi tidak akan didulang dalam waktu dekat.

Manfaat dan perhitungan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Inalum, Rendi A. Witular menyatakan ada manfaat finansial dan nilai strategis dalam akusisi tersebut. 

“Ini bisa jadi keahlian yang didapat Indonesia dalam mengelola tambang bawah tanah terumit di dunia. Keahlian tersebut nantinya akan diterapkan dalam pengelolaan tambang serupa di beberapa daerah potensial di luar Papua yang saat ini sedang dikaji oleh Inalum,” tutur Rendi dalam siaran tertulis, Jumat (15/2/2019).

Terkait tuduhan akan harga yang mahal yang harus dibayar, dalam dokumen Inalum dijelaskan bahwa harga 3,85 miliar dollar AS yang disepakati dengan Freeport McMoRan pada pertengahan 2018 lalu sebenarnya sangat murah.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.