Pasca-Penembakan di Las Vegas, Saham Produsen Senjata Malah Menguat

Kompas.com - 04/10/2017, 10:38 WIB
Ilustrasi. ThinkstockIlustrasi.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

NEW YORK, KOMPAS.com - Saham-saham emiten perusahaan produsen senjata api menguat di bursa saham AS pada awal pekan ini.

Penguatan saham emiten senjata tersebut terjadi beberapa jam setelah terjadi penembakan yang menewaskan setidaknya 50 orang di Las Vegas.

Diduga, penguatan saham tersebut terjadi lantaran para investor mengantisipasi terjadinya gelombang pembelian senjata secara buru-buru. Pasalnya, banyak warga AS yang mengkhawatirkan bakal diterbitkannya undang-undang pengzandiendalian kepemilikan senjata.

Saham American Outdoor Brands Corp, yang memproduksi senjata api dengan merek Smith and Wesson, menguat lebih dari 3 persen. Sementara itu, saham produsen senjata api Sturm Ruger & Co juga menguat sekitar 3 persen.

Adapun saham produsen amunisi Vista Outdoors Inc menguat lebih dari 2 persen. Harga saham ketiga perusahaan tersebut sempat bergejolak pada sesi awal perdagangan awal pekan ini, namun tetap dalam kisaran positif.

Kinerja saham ketiga perusahaan tersebut pada awal pekan ini sangat berkebalikan dengan kinerja pada akhir pekan lalu, di mana ketiganya ditutup melemah.

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi, menyebut penguatan saham emiten-emiten senjata tersebut tak lepas dari pemikiran konvensional.

"Saham produsen senjata menguat setelah peristiwa penembakan seperti yang terjadi di Las Vegas sejalan dengan keyakinan investor bahwa akan ada gelombahg pembelian senjata sebelum aturan baru terkait pengendalian kepemilikan senjata diterbitkan," ujar Zandi seperti dikutip dari BBC, Rabu (4/10/2017).

Harga saham emiten senjata menguat pada awal pekan ini, sejalan dengan tren yang terlihat setelah beberapa tragedi serupa, yang memunculkan spekulasi bahwa regulasi baru terkait senjata api akan diperkenalkan di AS.

Paul Christopher, head global market strategist di Wells Fargo Investment Institute menuturkan, ada peningkatan penjualan senjata api setelah serangan 11 September 2001. Peningkatan penjualan senjata juga terjadi setelah pemilihan presiden tahun 2008 dan 2012.

Selain itu, penjualan senjata juga meningkat setelah tragedi penembakan di San Bernardino pada Desember 2015. Setelah penembakan terjadi di sekolah dasar di Newtown, Connecticut, presiden AS saat itu, Barack Obama, menerapkan pengetatan kepemilikan senjata.

"Penguatan saham setelah penyerangan di Las Vegas cukup menarik, karena Presiden Donald Trump mengedepankan hak untuk memiliki senjata api sebagai pusat dari kampanyenya," jelas Christopher.



Sumber BBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Emas Melonjak 29,5 Dollar AS, Ini Sebabnya

Harga Emas Melonjak 29,5 Dollar AS, Ini Sebabnya

Whats New
Simak Persyaratan Penumpang Lion Air Pasca Larangan Mudik

Simak Persyaratan Penumpang Lion Air Pasca Larangan Mudik

Whats New
Simak, Ini Daftar Lengkap Formasi Terbanyak CPNS 2021

Simak, Ini Daftar Lengkap Formasi Terbanyak CPNS 2021

Whats New
Masyarakat Laporkan 134 ASN Nekat Mudik, Ini Respons Menteri Tjahjo

Masyarakat Laporkan 134 ASN Nekat Mudik, Ini Respons Menteri Tjahjo

Whats New
[POPULER MONEY] 10 Aset Kripto Paling Cuan Dalam Sepekan | Bagaimana Sebenarnya Sistem COD di Olshop

[POPULER MONEY] 10 Aset Kripto Paling Cuan Dalam Sepekan | Bagaimana Sebenarnya Sistem COD di Olshop

Whats New
Penarikan Uang di Jabodetabek Selama Lebaran Capai Rp 34,8 Triliun

Penarikan Uang di Jabodetabek Selama Lebaran Capai Rp 34,8 Triliun

Whats New
Larangan Mudik Berakhir, Simak Syarat Keluar Kota Terbaru

Larangan Mudik Berakhir, Simak Syarat Keluar Kota Terbaru

Whats New
[TREN WISATA KOMPASIANA] Macau Bukan Sekadar Tempat Berjudi | Urban Tourism, Tren Global yang Jadi Peluang Lokal | 'Traveling' Hemat ke Jerman Selama Corona

[TREN WISATA KOMPASIANA] Macau Bukan Sekadar Tempat Berjudi | Urban Tourism, Tren Global yang Jadi Peluang Lokal | "Traveling" Hemat ke Jerman Selama Corona

Rilis
Selama Larangan Mudik, Trafik di Bandara Kelolaan AP I Hanya 66.096 Penumpang

Selama Larangan Mudik, Trafik di Bandara Kelolaan AP I Hanya 66.096 Penumpang

Whats New
Mengenalkan Huruf dan Angka kepada Anak Prasekolah | Ini Cara Mengetahui dan Mengasah Bakat Anak Sejak Dini | Menilai dan Merumuskan Definisi Variabel Penelitian

Mengenalkan Huruf dan Angka kepada Anak Prasekolah | Ini Cara Mengetahui dan Mengasah Bakat Anak Sejak Dini | Menilai dan Merumuskan Definisi Variabel Penelitian

Rilis
Mahalnya Iron Dome, Teknologi Israel Penghalau Roket Hamas

Mahalnya Iron Dome, Teknologi Israel Penghalau Roket Hamas

Whats New
Menaker Ida Harap Bulan Syawal Jadi Spirit Baru untuk Tingkatkan Kinerja Para Pegawai

Menaker Ida Harap Bulan Syawal Jadi Spirit Baru untuk Tingkatkan Kinerja Para Pegawai

Rilis
Antisipasi Kerugian Saat Gagal Panen, Mentan Minta Petani Ikut AUTP

Antisipasi Kerugian Saat Gagal Panen, Mentan Minta Petani Ikut AUTP

Rilis
PPKM Mikro Diperpanjang, Tempat Wisata di Zona Merah dan Oranye Harus Tutup

PPKM Mikro Diperpanjang, Tempat Wisata di Zona Merah dan Oranye Harus Tutup

Whats New
Mulai Besok, KRL Kembali Beroperasi hingga Pukul 22.00 WIB

Mulai Besok, KRL Kembali Beroperasi hingga Pukul 22.00 WIB

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X