BKPM Kesulitan Mendata Investasi ke Perusahaan E-Commerce dan Startup - Kompas.com

BKPM Kesulitan Mendata Investasi ke Perusahaan E-Commerce dan Startup

Kompas.com - 30/01/2018, 19:48 WIB
Ilustrasi e-commerceusabilitygeek.com Ilustrasi e-commerce

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) Thomas Lembong mengakui pihaknya kesulitan dalam melakukan pendataan investasi yang masuk ke perusahaan e-commerce maupun perusahaan rintisan ( startup).

Beberapa waktu terakhir memang sejumlah perusahaan itu memperoleh suntikan modal dari sejumlah perusahaan dunia.

Namun demikian, investasi tersebut belum terdata di dalam realisasi investasi yang disusun BKPM.

Baca juga : Berapa Dana Segar yang Diberikan Google untuk Go-Jek?

"Pengumuman investasi triliunan, puluhan triliun rupiah, ratusan juta, miliaran dollar AS, tapi data ini belum tercermin di dalam data BKPM," kata Thomas dalam konferensi pers di Kantor Pusat BKPM, Selasa (30/1/2018).

Thomas menjelaskan, fenomena perkembangan e-commerce dan startup baru muncul dua tahun terakhir. Sebelum tahun 2015, skala investasinya masih kecil, namun kemudian tiba-tiba angkanya melonjak menjadi miliaran dollar AS.

"Saya merasa sedikit keteteran, kami seringkali kesulitan klasifikasi dan kategorisasi bidang usaha mana, karena mereka macam-macam," ujar Thomas.

Ia pun menyatakan, BKPM akan membenahi pendataan investasi yang masuk ke perusahaan e-commerce dan startup. Pembenahan ini pun harus dilakukan dalam waktu cepat, lantaran angka investasinya sangat besar.

Baca juga : Tokopedia Dapat Suntikan Modal Rp 1,2 Triliun

BKPM mengestimasi, total investasi pada perusahaan e-commerce dan startup mencapai 4,8 miliar dollar AS. Sebagai perbandingan, angka ini hampir separuh dari angka investasi di sektor migas yang mencapai 9 miliar dollar AS pada tahun 2017.

"Total investasi di e-commerce dan startup hampir separuh investasi migas. Pertumbuhannya 30-50 persen per tahun," jelas Thomas.

Adapun total investasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai kisaran 25 miliar-30 miliar dollar AS. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa investasi pada e-commerce dan startup pertumbuhannya tinggi dan cepat.

"Diharapkan ini dipelihara dan dijaga baik-baik, jangan sampai menghadapi kendala dan faktor-faktor negatif yang membuat investasi ini lari ke negara lain," tutur Thomas.

Kompas TV Suntikan dari konsorsium Alphabet, induk usaha Google mencapai Rp 16 triliun.



EditorAprillia Ika

Close Ads X