Pekerja Migran Harus Didorong Untuk Manfaatkan Kredit Usaha Rakyat

Kompas.com - 06/04/2018, 14:45 WIB
Pusat perbelanjaan bawah tanah di Taipe berubah menjadi kawasan kecil Indonesia, pada suatu hari. Aroma nasi goreng dan pisang goreng dapat tercium dengan mudah.
BBC Pusat perbelanjaan bawah tanah di Taipe berubah menjadi kawasan kecil Indonesia, pada suatu hari. Aroma nasi goreng dan pisang goreng dapat tercium dengan mudah.

KOMPAS.com - Keberadaan Kredit Usaha Rakyat ( KUR) sudah sejak lama difokuskan untuk kebutuhan usaha. Namun sebenarnya KUR juga dapat dimanfaatkan oleh para pekerja migran untuk membiayai keberangkatannya ke negara tujuan ataupun untuk wirausaha produktif.

Minimnya pengetahuan menjadi penyebab masih minimnya penggunaan KUR oleh para pekerja migran.  Pekerja migran harus didorong untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, penggunaan KUR untuk pembiayaan keberangkatan pekerja migran ke negara tujuan sangat baik dan bisa mengurangi ketergantungan mereka kepada perusahaan pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS).

Penggunaan KUR untuk wirausaha bagi pekerja migran dan keluarganya juga dapat meningkatkan kemandirian keluarga dan juga menggerakkan perekonomian mereka juga tempat tinggalnya.

Baca juga : Menkop Akui Penyaluran KUR untuk TKI Belum Maksimal

Imelda mengatakan, para pekerja migran perlu mendapatkan sosialisasi dan pengetahuan terkait KUR dan bagaimana mengaksesnya.

Hal ini sebaiknya dilakukan oleh aparat desa dalam bentuk program pembinaan yang terintegrasi dengan bank atau lembaga keuangan lainnya. Selain mengenai KUR, sosialisasi mengenai literasi keuangan dan wirausaha juga diperlukan agar mereka bisa memanfaatkan remitansi yang dihasilkan dengan baik.

“Penggunaan KUR oleh pekerja migran masih minim. Hal ini dibuktikan oleh data dari Kementerian Koordinator Perekonomian. Jumlah KUR yang disalurkan untuk keperluan pekerja migran jauh lebih kecil dari pada KUR mikro dan KUR ritel,” jelas Imelda melalui rilis ke Kompas.com. 

Data dari Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan pada 2017, realisasi penyaluran KUR untuk penempatan pekerja migran berjumlah Rp 300 miliar, KUR mikro sebesar Rp 65,2 triliun dan KUR ritel sebesar Rp 31,2 triliun. Jumlah ini, kata Imelda, masih dapat ditingkatkan seiring dengan sosialisasi yang dilakukan.

Baca juga : Sah, Suku Bunga KUR Jadi 7 Persen Mulai Tahun Ini

Untuk itu, pemerintah perlu menggandeng lebih banyak pihak swasta seperti Bank dan penyedia jasa keuangan yang lain untuk mendukung program KUR untuk pembiayaan pekerja migran.

Selain itu, sosialisasi untuk program KUR untuk mereka harus rutin dilakukan supaya mereka tahu kalau mereka mempunyai pilihan dalam menentukan rencana pembiayaan keberangkatan mereka.

“Dengan menggunakan KUR, para pekerja migran tidak akan bergantung pada PPTKIS, terutama PPTKIS yang suka membebankan pungutan diluar ketentuan. Proses menunggu keberangkatan adalah fase terberat yang harus dihadapi para pekerja migran dan pembebanan pungutan liar tentu akan memberatkan mereka,” ungkapnya.

Kompas TV Cerita miris kembali menimpa Tenaga Kerja Indonesia. Sri Rabitah, TKI asal Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, harus hidup dengan satu ginjal. Diduga, Sri kehilangan ginjalnya saat bekerja di Doha Qatar beberapa tahun lalu. Satu minggu setelah bekerja, Sri dibawa oleh sang majikan untuk pemeriksaan kesehatan karena dianggap kondisinya lemah. Sri dibawa ke ruang operasi dengan alasan untuk mengangkat penyakitnya. Ia disuntik hingga tak sadarkan diri. Setelah seminggu dioperasi, Sri malah dikembalikan ke agen tenaga kerja dan kemudian dipulangkan ke tanah air tanpa gaji karena dianggap tak bisa bekerja. Selama tiga tahun di rumah, Sri sering mengalami sakit-sakitan sehingga ia melakukan cek kesehatan ke RSUD Tanjung, Lombok. Setelah diperiksa dan melihat hasil rongen, ternyata ginjal sebelah kanan Sri tidak ada dan sudah diganti dengan pipa plastik. Menurut pusat bantuan hukum buruh migran wilayah NTB, kasus pencurian organ kerap dialami TKI dan TKW. Namun, selama ini tak pernah ada yang bisa memberi kesaksian. Saat ini, Sri sedang menunggu jadwal operasi untuk mengangkat pipa yang ada di tubuhnya. Namun, Sri juga risau menghadapi risiko operasi yang akan ia jalani. Dari kasus Sri ini, diharapkan pemerintah tergerak untuk membongkar mafia pencurian organ yang banyak menimpa para pekerja migran kita.




Close Ads X