Bos IMF: Sistem Perdagangan Bebas Terancam Hancur

Kompas.com - 12/04/2018, 20:10 WIB
Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde saat ditemui pewarta di Nusa Dua, Bali, Jumat (2/3/2018). Lagarde bersama rombongan memastikan Indonesia dan Bali sudah siap untuk pelaksanaan annual meeting IMF-World Bank 2018 yang akan diselenggarakan di Nusa Dua pada Oktober 2018 mendatang. KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERA Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde saat ditemui pewarta di Nusa Dua, Bali, Jumat (2/3/2018). Lagarde bersama rombongan memastikan Indonesia dan Bali sudah siap untuk pelaksanaan annual meeting IMF-World Bank 2018 yang akan diselenggarakan di Nusa Dua pada Oktober 2018 mendatang.

HONG KONG, KOMPAS.com - Pimpinan Dana Moneter Internasional ( IMF) menyatakan ketegangan yang meningkat dapat berisiko terhadap sistem perdagangan global. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menegaskan, negara-negara harus menjauhi proteksionisme.

"Sistem perdagangan bebas yang berdasarkan pada aturan dan tanggung jawab bersama kini terancam hancur," ujar Lagarde dalam pidatonya di Hong Kong, seperti dikutip dari CNN Money, Kamis (12/4/2018).

Komentar tersebut dilontarkan Lagarde ketika AS dan China berada di tengah pusaran pertikaian perdagangan. Kedua negara saling melempar ancaman penerapan tarif impor senilai miliaran dollar AS terhadap produk dari masing-masing negara.

Lagarde pun mendesak negara-negara tertentu untuk menurunkan batasan perdagangan dan menyelesaikan pertikaian tanpa menggunakan pengukuran kebijakan eksepsional tertentu. Namun demikian, ia tidak merujuk pada negara-negara tertentu.

Baca juga: IMF dan Alibaba Harapkan Penyelesaian Perang Dagang China-AS

Akan tetapi, pernyataan Lagarde tersebut tampaknya merujuk pada langkah yang dilakukan Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif impor tanpa melalui proses di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Para pakar pun telah memperingatkan bahwa langkah yang dilakukan Trump telah mengganggu sistem perdagangan dunia.

"Setiap negara memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki sistem perdagangan dengan melihat pada praktiknya sendiri dan berkomitmen pada level aktvitas di mana semua negara akan mematuhi aturan," sebut Lagarde.

Dia pun menyebutkan perlindungan kekayaan intelektual yang lebih baik dan menurunkan distorsi kebijakan yang mengedepankan badan usaha milik negara. Pernyataan Lagarde ini dipandang merujuk pada China.

Trump sendiri telah menuding China mencuri properti intelektual sebagai alasan penerapan tarif impor senilai 50 miliar dollar AS. China menampik tudingan AS tersebut, namun juga berjanji untuk memperkuat perlindungan properti intelektual.

Menurut Lagarde, pengenaan tarif dapat melukai semua pihak, khususnya konsumen di tingkat penghasilan rendah.

"Tidak hanya berdampak pada harga produk yang lebih mahal dan pilihan yang terbatas, (pengenaan tarif) juga mencegah perdagangan memainkan peranan penting untuk mendorong produktivitas dan memperluas teknologi baru," sebut Lagarde.

Kompas TV Pemerintah Indonesia mengklaim berhak mengenakan bea masuk untuk barang impor tak berwujud.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X