BTPN Syariah Resmi Melantai di BEI

Kompas.com - 08/05/2018, 11:02 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/2/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk ( BTPN Syariah) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia ( BEI), Selasa (8/5/2018).

Selama masa penawaran umum pada 27 April 2018 hingga 2 Mei 2018 BTPN Syariah mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali atau senilai Rp 1,31 miliar dari 770 juta lembar total saham yang ditawarkan atau 10 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor.

Dengan harga saham ditetapkan Rp 975 per saham melalui IPO (Innitial Public Offering) perseroan meraih dana Rp 751 miliar sebelum dikurangi biaya emisi saham.

Melalui pencatatan ini, perseroan juga telah melepas sebanyak 0,35 persen dari jumlah saham yang ditawarkan melalui IPO kepada karyawan melalui program Employee Stock Allocation (ESA).

Baca juga: Kuartal II IPO, BTPN Syariah Bakal Lepas 10 Persen Saham ke Publik

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty mengatakan, dana yang diperoleh pada proses ini akan digunakan untuk meningkatkan volume pembiayaan terhadap segmen nasabah prasejahtera produktif.

"Segmen inilah yang telah menjadi fokus bisnis perseroan selama tujuh tahun terakhir," jelasnya ketika memberikan keterangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (8/5/2018).

Dalam proses IPO BTPN Syariah ini, bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek (Lead Underwriter) adalah PT Ciptadana Sekuritas Asia.

"Sampai pada saat penutupan penawaran umum minggu lalu, pembeli terbesarnya (saham) adalah institusi yang memiliki profil investasi jangka panjang," tutur Ferry Tanja, Direktur Utama PT Ciptadana Sekuritas Asia.

Emiten dengan kode saham BTPS ini, hingga akhir Maret 2018, telah mencatatkan total aset mencapai Rp 9,5 triliun atau tumbuh 24,1 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga mencapai Rp 6,7 triliun atau tumbuh 18,8 persen.

Sementara itu, untuk pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 6,2 triliun atau tumbuh 21,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyaluran pembiayaan tetap terjaga, tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) di level rendah, yakni 1,67 persen.   

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X