Buwas: Seharusnya Gejolak Harga Tidak Terjadi Berulang Kali

Kompas.com - 31/05/2018, 14:41 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Kompas.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Kamis (31/5/2018). Budi Waseso menjelaskan stok beras telah mencapai 1,324 juta ton sampai sekarang dengan rinciannya, beras pengadaan dalam negeri atau serapan gabah petani sebesar 791.911 ton dan pengadaan luar negeri atau impor sebesar 532.526 ton. Jumlah tersebut dianggap cukup untuk konsumsi masyarakat saat Lebaran hingga setelahnya. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGDirektur Utama Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Kompas.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Kamis (31/5/2018). Budi Waseso menjelaskan stok beras telah mencapai 1,324 juta ton sampai sekarang dengan rinciannya, beras pengadaan dalam negeri atau serapan gabah petani sebesar 791.911 ton dan pengadaan luar negeri atau impor sebesar 532.526 ton. Jumlah tersebut dianggap cukup untuk konsumsi masyarakat saat Lebaran hingga setelahnya.

JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap Lebaran dan puasa, harga bahan pangan, terutama beras, selalu mengalami gejolak. Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog (Perum Bulog) Budi Waseso ( Buwas) mengatakan, gejolak harga yang terjadi di pasar seharusnya tidak terjadi berulang kali setiap tahun.

Karena, menurut dia, pola naik turunnya harga di pasar mudah untuk diprediksi.

"Sebenarnya itu mudah diprediksi kalau kita mengikuti perkembangan harga dan kebutuhan masyarakat di lapangan, apalagi kalau dalam rangka hari-hari tertetu seperti sekarang (puasa dan Lebaran)," ujar Buwas ketika ditemui Kompas.com di kantornya, Kamis (31/5/20180)

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini mengatakan, operasi pasar tidak akan efektif untuk menangani gejolak harga di pasar.

Baca juga: Buwas: Saya Bakal Dibenci Ibu-ibu kalau Gagal Urusan Beras

"Kebanyakan operasi pasar itu pemadam kebakaran, sudah terjadi baru kita riuh menangani," sebutnya.

Dia mengatakan, Bulog akan melakukan pembenahan sistem perencanaan kerja yang lebih matang untuk menangani permasalahan gejolak harga tiap Lebaran dan puasa.

"Jadi yang harus dibenahi sistem dan perencanaan kerjanya. Masa sudah bisa diprediksi, tapi tiap tahun bergejolak," ujar dia.

Menurut Buwas, meningkatnya permintaan saat Lebaran dan puasa ini tidak dapat dihindari karena sudah menjadi budaya masyarakat secara turun-menurun. Namun, meningkatnya permintaan ini kerap kali dibarengi dengan kesediaan barang yang berkurang. Inilah yang kemudian mendorong naiknya harga-harga kebutuhan pokok di pasar.

"Ketidakkesediaan barang bukan karena tidak ada barangnya, tetapi karena pemain spekulan, dia ingin mendapatkan keuntungan berlebih dalam keadaan seperti ini," kata Buwas.

Baca juga: Buwas: Sembako Harus Dikuasai Negara

Karena itu, untuk mengantisipasi hal ini, Bulog berusaha untuk selalu berada di lapangan dan siap untuk menggulirkan stok ketika tengkulak mulai menahan stok beras mereka.

"Begitu stok mulai tipis berarti kan sudah ada yang nahan, kita langung gulirkan barang kita sehingga tidak ada stok yang kurang sehingga harga stabil," ucap dia.

Selain itu, Buwas juga mengatakan, langkah ke depan yang harus dilakukan Bulog bersama dengan pemerintah adalah mengusahakan swa sembada pangan untuk memenuhi kebutuhan negara.

Kompas TV Direktur Utama Bulog Budi Waseso menjamin bulog mampu menyediakan stok beras selama Ramadhan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X