21 Persen Pembangkit Listrik Sumatera Berasal dari Energi Baru Terbarukan - Kompas.com

21 Persen Pembangkit Listrik Sumatera Berasal dari Energi Baru Terbarukan

Kompas.com - 13/08/2018, 10:12 WIB
Warga melintas di bawah instalasi panel surya di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/7/2017). Proyek Kementerian Perhubungan tersebut mampu menghasilkan tenaga listrik 500 kilo volt ampere (kVA) atau 500.000 watt sebagai upaya penghematan energi listrik operasional Terminal tipe A Tirtonadi. ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA Warga melintas di bawah instalasi panel surya di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/7/2017). Proyek Kementerian Perhubungan tersebut mampu menghasilkan tenaga listrik 500 kilo volt ampere (kVA) atau 500.000 watt sebagai upaya penghematan energi listrik operasional Terminal tipe A Tirtonadi.

BENGKULU, KOMPAS.com — Direktur Bisnis PT PLN Regional Sumatera, Wiluyo Kusdwiharto, menyebutkan, sudah 21 persen pembangkit listrik di Pulau Sumatera berasal dari energi baru terbarukan ( EBT). Selanjutnya, pada 2025 target 23 persen EBT di Sumatera akan terpenuhi.

"Pulau Sumatera sangat memenuhi syarat membangun energi baru terbarukan, yang berasal dari panas bumi, surya, dan lainnya," kata Wiluyo di Bengkulu, Jumat (10/8/2018).

Dia mengatakan, saat ini kapasitas EBT listrik di Sumatera mencapai 1.800 MW. Ke depan pemerintah akan membangun banyak pembangkit EBT di Pulau Sumatera seperti di Asahan kapasitas 185 MW, Batangtoru kapasitas 500 MW, dan lainnya.

Sementara itu, Manager PLN Area Bengkulu Nova Sagita menyatakan, 90 persen energi listrik Bengkulu berasal dari EBT, seperti PLTA Musi. Terdapat Kapasitas listrik terpasang 270 MW dengan beban puncak 160 MW. Terdapat surplus listrik 110 MW.

Baca juga: Jokowi Akui Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga EBT Lebih Mahal dari Fosil

Saat ini, PLN sedang membangun transmisi dari Kota Bengkulu menuju Kabupaten Mukomuko yang selama ini dipasok PLTD sebesar 15 MW.

"Pokok produksi besar sekali Rp 2.800 per kWh. dengan adanya transmisi ditarget selesai pada 2020 maka biaya operasional bisa ditekan jadi Rp 1.500 atau turun 30 persen. Tentunya harga ke konsumen juga akan turun juga," ucap Nova.



Close Ads X