Vietnam Bisa Jadi "Pemenang" dari Perang Dagang AS-China - Kompas.com

Vietnam Bisa Jadi "Pemenang" dari Perang Dagang AS-China

Kompas.com - 13/09/2018, 08:02 WIB
Potret vietnam.500px/Alexander Frais Potret vietnam.

NEW YORK, KOMPAS.com - Vietnam berpotensi mendapat manfaat dari meningkatnya ketegangan ekonomi antara China-AS.

Negara dengan julukan Vietnam Rose ini bisa "menang" jika banyak investasi asing langsung bergeser ke negaranya karena meningkatnya tekanan biaya dari tarif AS-Cina. Hal itu diungkapkan kepala investasi dari Dragon Capital Bill Stoops kepada CNBC yang dikutip Kamis (13/8/2018).

"Bahkan Cina mungkin mulai menggeser lebih banyak produksinya ke Vietnam," ujar Stoops. Hal itu bisa terjadi tidak "disadap" oleh Presiden AS Donald Trump.

"Ini adalah tren yang bisa kita lihat," tambahnya.

Stopps mengatakan, Vietnam tidak mungkin menjadi target dalam perang dagang meskipun memiliki surplus perdagangan senilai 40 miliar dollar AS dengan negeri Paman Sam tersebut.

Bagi Washington, menurut dia, yang penting adalah "tentang menggertak Cina" untuk alasan geostrategis dan komersial.

Stoops mengatakan, ekspor Vietnam ke Amerika Serikat punya citra "terlalu kecil bagi AS untuk peduli."

Sebelumnya, beberapa pekan terakhir banyak mata uang negara-negara berkembang terdepresiasi atas kekhawatiran krisis di Turki dan Argentina.

Efeknya bahkan rupiah Indonesia yang paling terpukul akan hal ini, jatuh ke nilai terendah setelah satu dekade terhadap dollar AS pada awal September.

Apakah kekhatiran ini bisa memukul sentimen di Vietnam? Stoops mengatakan mata uang negara itu, yakni dong, memiliki "fondasi makro yang sangat sehat."

Dia mengatakan negara itu memiliki cadangan devisa "sangat besar" dan memiliki arus positif pada neraca berjalannya. Tak lupa juga arus barang dan jasa dan investasi di dalam dan di luar negerinya yang berjalan.

Jika Federal Reserve AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 hingga 125 basis poin selama 12 bulan ke depan, menurut Stopps mata uang Vietnam akan baik-baik saja. Kekuatan dong ini karena penduduk setempat "senang dengan cara mata uang itu dapat dikelola," kata Stoops.



Close Ads X