Turun, Jumlah Populasi Miskin Ekstrim di Dunia Mencapai 736 Juta

Kompas.com - 21/09/2018, 10:29 WIB
Ilustrasi Kemiskinan di pinggiran Kota Jakarta KOMPAS/AGUS SUSANTOIlustrasi Kemiskinan di pinggiran Kota Jakarta

WASHINGTON, KOMPAS.com - Bank Dunia menyatakan, jumlah populasi yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrim di seluruh dunia menurun. Namun, penurunan tingkat kemiskinan cenderung melambat.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait target pencapaian pemberantasan kemiskinan pada tahun 2030. Oleh sebab itu, investasi pro-kaum miskin dipandang perlu ditingkatkan.

Secara global, persentase populasi yang hidup dalam kemiskinan ekstrim turun ke level terendah baru, yakni 10 persen pada tahun 2015 yang merupakan data terakhir yang tersedia. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 11 persen pada 2013.

Data Bank Dunia tersebut menunjukkan progres yang kuat, namun melambat. Adapun jumlah orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari 1,90 dollar AS turun 68 juta orang menjadi 736 juta orang.

"Dalam 25 tahun terakhir, lebih dari 1 miliar orang telah membebaskan diri mereka sendiri dari kemiskinan ekstrim. Tingkat kemiskinan global dunia pun kini lebih rendah dari yang pernah dicatat sejarah. Ini adalah pencapaian terbesar umat manusia," kata Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangan resmi pada laman Bank Dunia, Jumat (21/9/2018).

Kim mengungkapkan, apabila umat manusia ingin mengakhiri kemiskinan pada tahun 2030, maka diperlukan lebih banyak investasi, khususnya dalam membangun sumber daya manusia, untuk membantu mempromosikan pertumbuhan inklusif.

Tingkat kemiskinan, menurut data Bank Dunia, masih cenderung tinggi di negara-negara berpendapatan rendah dan negara-negara yang terdampak konflik maupun pergolakan politik.

Proyeksi awal Bank Dunia, tingkat kemiskinan ekstrim dapat turun ke 8,6 persen pada tahun 2018. Dua kawasan, yakni Asia Timur dan Pasifik serta Asia Tengah telah menurunkan tingkat kemiskinan ekstrim ke bawah 3 persen.

Timur Tengah dan Afrika Utara pernah mencapai tingkat kemiskinan ekstrim di bawah 3 persen pada tahun 2013. Namun, konflik di Suriah dan Yaman mendongkrak tingkat kemiskinan pada tahun 2015.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X