Kisah Javara Membawa Produk Pangan Indonesia ke Mancanegara

Kompas.com - 18/12/2018, 06:00 WIB
Pendiri dan CEO Javara Helianti Hilman saat di Jakarta, Senin (17/12/2018). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAPendiri dan CEO Javara Helianti Hilman saat di Jakarta, Senin (17/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan sesuai untuk menciptakan ragam produk pertanian organik yang berkualitas.

Ya, kelebihan yang dimiliki Indonesia itu dimanfaatkan Helianti Hilman, selaku pendiri dan CEO Javara untuk meraup pundi-pundi uang. Bahkan, produk pertanian Indonesia dibawa Hilman untuk pentas di mancanegara.

Helianti berhasil memoles produk pertanian organik asal Indonesia disukai masyarakat Internasional.

Javara mengunggulkan produk pangan yang ditanam secara organik oleh petani Indonesia. Untuk tiap produk, Javara mengemasnya secara eksklusif dan menonjolkan sisi kearifan budaya Indonesia yang kental.

Misalnya, produk beras Javara dinamai dengan nama khas Indonesia seperti, Andel Abang, Cempo Merah, Wangi Menyan, Jenggot Netep dan Menthik Susu, dikemasnya dengan berat antara 400 gram dan 5 kilogram.

Berbeda dengan kemasan beras pada umumnya, Javara mencantumkan kisah proses pembuatan produknya yang sehat dan diproduksi oleh petani yang ada di daerah terpencil Indonesia.

Menurut Helianti, untuk masuk ke pasar global kita harus memiliki ciri khas dan bisa memahami karakteristik konsumen.

"Untuk masuk ke pasar manacanegara prinsipnya simple. Satu, kita harus create winning product, harus ada pembeda, unik. Jangan ikuti orang kebanyakan. Kedua, standarisasi produk," ujar Helianti di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Menurutnya, pasar global menyambut positif produk Javara, sehingga dirinya terus berkomitmen untuk menjaga kualitas dan kearifan lokal Indonesia.

Kini, produk Javara telah tersebar di 23 negara yang ada di lima benua. Javara pun menggandeng puluhan ribu petani lokal untuk dipasarkan produknya di dunia internasional.

"Petani sekarang ada 54.000. kemarin kita baru sertifikasi lagi sekitar 2 ribuan," kata Helianti.

Bukan hanya beras saja yang menjadi produk andalan Javara. Produk makanan asli Indonesia lainnya yang juga disukai warga asing adalah produk gula semut alami atau coconut sugar.

Varian rasa yang beragam seperti original, vanila, jahe, temulawak dan kunyit membuat warga asing selalu ketagihan untuk menggunakannya sebagai campuran makanan dan minuman.

Setidaknya ada sekitar 800 jenis produk Javara mampu menembus pasar global. Jenis produk dari beras, kopi, madu, aneka rempah, kokoa, kacang mete, gula aren, minyak kelapa, selai, pisang, bumbu, rumput laut dan berbagai jenis produk lainnya berhasil mendapatkan apresiasi dari sejumlah negara lain.

"Kita rangenya cukup banyak karena kita mulai dari produk pertanian, hutan, laut, ada yang dari lahan kering, gambut. Sekarang saya lagi pelatihan petani lahan gambut di Kalimantan dan Jambi," ujar dia.

Hambatan

Dibalik kisah suksesnya saat ini rupanya Helianti pada awal kariernya sempat mengalami kegagalan. wanita lulusan Kings College University of London ini sempat kesulitan memasarkan produknya di dalam negeri.

Harga produk yang lebih mahal ketimbang yang lain sempat membuat Javara tak diminati oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, produk Javara juga sempat kesulitan didaftarkan.

"Aku sempet enggak bisa jualan beras, baru 18 bulan setelahnya izinnya keluar. Goverment bilang harus terdaftar di Kementan, ternyata unit pendaftarannya belum dibuka. Banyak produk kita yang enggak bisa masuk ke lokal akhirnya ekspor," ucap dia.

Namun, kegagalan itu tak membuat Helianti patah arang. Helianti coba membelokan pangsa pasarnya ke pasar internasional.

Hasilnya, warga asing malah lebih menyenangi produk pangan organik Javara. Pada 2014 lalu, produk Javara 90 persen di ekspor.

"Dulu ekspor kita pakai karena we dont have any other way, terutama untuk produk yang kita enggak bisa rilis di Indonesia karena faktor regulasi. Kita sempat di 2014 90 persen ekspor," kata Helianti.

Namun, seiring perubahan prilaku konsumen produk Javara mulai digandrungi di dalam negeri.

"Kita sekarang adanya sosial media dan trend foodies yang berkembang di indonesia, dapat benefit, karena sebenarnya lebih enak jualan di negeri sendiri. Lebih shorter mata rantainya, margin kita lebih gede. Sekarang presentase pemasaran produknya hampir fifthy-fifthy," ujar Helianti.

Awal Mula Merintis Javara

Helianti merupakan wanita lulusan Kings College University of London yang sempat bekerja sebagai konsultan di lembaga internasional. Profesi tersebut juga sempat membawanya untuk hijrah ke beberapa negara di kawasan Asia Selatan.

Berkat pengalaman di negara orang, Helianti mulai mengetahui kalau produk-produk pertanian di negara tersebut bisa masuk ke pasar global dengan mudah.

Ketika Helianti berlibur ke Inggris, ia sempat mampir ke toko bahan makanan organik yang dikelola oleh para petani lokal di negara tersebut.

Akhirnya dia berpikir bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang yang bisa menciptakan ragam produk pertanian organik yang berkualitas. Dari ide sederhana itulah, Helianti mulai aktif menjalin hubungan dengan komunitas petani dan mulai mengembangkan produk Javara sejak tahun 2008.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X