Berita Populer: Jack Ma soal Pekerjaan Pertama hingga Jokowi Bermodal Rp 10 Juta untuk Usaha

Kompas.com - 26/01/2019, 07:01 WIB

1. Menurut Jack Ma, Pekerjaan Pertama Anda Sangat Penting, Ini Sebabnya

Pendiri dan pimpinan raksasa internet Alibaba Group Jack Ma mengatakan, pekerjaan pertama Anda adalah hal yang sangat penting. Hal ini diungkapkan Ma kepada generasi muda dalam diskusi panel di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.

"Pekerjaan pertama Anda adalah hal yang paling penting," sebut Ma seperti dikutip dari CNBC, Jumat (25/1/2019).

Menurut Ma, pekerjaan pertama Anda tidak harus pekerjaan impian atau pekerjaan yang sangat Anda nikmati. Namun, pekerjaan pertama haruslah pekerjaan yang memungkinkan Anda belajar dari orang lain.

"Bukan harus perusahaan yang memiliki nama besar, tetapi Anda harus menemukan atasan yang baik yang bisa mengajarkan Anda bagaimana menjadi manusia seutuhnya, bagaimana melakukan sesuatu dengan benar, sesuai, dan Anda harus tetap (bekerja) di sana," tutur Ma.

Baca selengkapnya di sini

Baca juga: Ingin Bangun Karier di Luar Negeri? Cek 5 Negara Pilihan Ekspatriat Ini 

2. Tingginya Dana untuk Naik Pesawat Berdampak ke Banyak Sektor

Kebijakan menaikkan harga tiket pesawat yang diambil oleh sejumlah maskapai Tanah Air beberapa waktu lalu, ternyata tak hanya turunkan jumlah penumpang.

Kenaikan harga tiket juga berperan besar dalam melemahnya sektor wisata bahkan inflasi ekonomi. Sebelumnya, sejumlah maskapai memang menaikkan nominal harga tiket pesawat.

Bahan pihak Garuda Indonesia selaku maskapai BUMN mengakui sebagai inisiator maskapai yang menaikkan harga. Setelah keputusan ini dibuat oleh maskapai plat merah itu, maskapai-maskapai lain pun sontak mengikutinya menaikkan harga tiket pesawat.

Ini tentunya memberatkan konsumen. Apalagi, maskapai yang terbilang menghadirkan tiket murah atau low cost carrier kini menerapkan biaya bagasi.

Baca selengkapnya di sini

Baca juga: YLKI Duga Ada Kartel dalam Kenaikan Harga Tiket Pesawat

3. Cerita Jokowi Memulai Usaha Bermodal Rp 10 Juta

Presiden Joko Widodo ( Jokowi) menemui ratusan nasabah program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) di Lapangan Alun-Alun Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/1/2019).

Selain menderngar cerita nasabah Mekaar, Jokowi juga membagikan pengalamannya ketika memulai usaha dan cerita tentang tetangganya mengenai permodalan membuka usaha.

"Saya dulu memulai usaha dengan uang yang kecil, kalau ibu Rp 2 juta, dulu saya Rp 10 juta," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, kesuksesan sebuah usaha tidak diukur seberapa besar dan banyak modalnya. Namun lebih kepada niat awal untuk memulai dan kejujuran ketika mendapat modal. Sehingga bisa berkembang dan maju.

Baca selengkapnya di sini

Baca juga: Kepada Ibu-ibu, Jokowi Bagikan Kunci Sukses untuk Jalankan Usaha

4. Malaysia Berambisi Kuasai Produk Halal di Olimpiade Tokyo 2020

Pemerintah Malaysia menargetkan untuk mencaplok porsi produk halal senilai 300 juta dollar AS pada Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Ini khususnya di sektor makanan dan minuman.

Dikutip dari New Straits Times, Jumat (25/1/2019), Menteri Pengembangan Kewirausahaan Datuk Seri Mohd Redzuan Md Yusof mengatakan, perusahaan-perusahaan Jepang telah menyatakan minat besar terhadap produk makanan dan minuman Malaysia. Ini termasuk pula sektor kesehatan dan kecantikan.

"Jepang telah membuka pintu mereka kepada pasar (produk) halal dibandingkan 10 tahun lalu, dan apabila UKM Malaysia tidak mengambil kesempatan ini, maka akan sangat rugi," kata Mohd Redzuan.

Pada tahun 2017, ekspor produk halal Malaysia ke Jepang mencapai nilai 2,8 miliar ringgit. Angka ini diprediksi terus meningkat menjadi 3,1 miliar ringgit pada 2018, 3,4 miliar ringgit pada 2019, dan 3,7 miliar ringgit pada 2020.

Baca selengkapnya di sini

Baca juga: Kalah dari Malaysia, Pangsa Ekspor Produk Halal Indonesia Baru 10 Persen

5. YLKI: Penghapusan Bagasi Gratis Bisa Jadi Bumerang

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) menilai tingginya harga tiket pesawat dan penghapusan layanan bagasi gratis bisa jadi bumerang bagi maskapai penerbangan nasional.

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, dengan adanya kebijakan tersebut para maskapai bisa ditinggal pelanggannya. Sebab, dengan harga yang semakin melonjak para penumpang bisa berpindah ke moda transportasi lain.

"Ini bisa jadi bumerang bagi maskapai dan pemerintah. Banyak penerbangan yang dibatalkan karena sepi penumpang. Pemerintah harua mengatur ulang mengenai hal ini," ujar Tulus di Jakarta, Jumat (25/1/2019).

Seharusnya lanjut Tulus, para maskapai melakukannya secara bertahap. Sebab, saat ini masyarakat telah terbiasa dengan tarif maskapai murah.

Baca selengkapnya di sini

Baca juga: Bagasi Berbayar, Harga Tiket Pesawat Harusnya Turun

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.