Mengangkat Derajat Warung Kelontong di Era Serba Online

Kompas.com - 05/02/2019, 16:59 WIB
Founder & CEO Warung Pintar, Agung Bezharie (kanan) discard DBS Asian Insight ConferenceKompas.com/YOGA SUKMANA Founder & CEO Warung Pintar, Agung Bezharie (kanan) discard DBS Asian Insight Conference

JAKARTA, KOMPAS.com - Warung sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Sebab, bagi sebagian orang, warung tak hanya sekedar tempat jual beli, tetapi sudah jadi tempat aktivitas sosial; mulai dari rumpi ibu-ibu hingga sekedar berkeluh kesah.

Bahkan bagi sebagian masyarakat lainnya, warung juga kerap menjadi tempat meminjam uang.

Kini saat dunia sudah serba online pun, kehadiran warung tetap tak tergantikan. Apa iya saat ingin makan mie, kita beli mie instan secara online? Tentu saja cara paling mudah adalah ke warung, bukan?

Baca juga: Ini 3 Sebab Warung dan Pasar Tradisional Tidak Berkembang

Sayangnya, banyak warung yang tak bisa berkembang. Sudah bertahun-tahun, si ibu warung hidupnya begitu-begitu saja, yang dijual juga itu-itu saja. Tak ada perubahan.

Hal inilah yang membuat Agung Bazharie dan beberapa temannya, tergerak dan mendirikan Warung Pintar, usaha rintisan (startup) ritel yang fokus mengembangkan warung-warung kelontong.

"Saya kurang rajin sekolah, jadi kebanyakan nongkrong di warung. Jadi masalah warung yang kita tahu," ujarnya sembari tertawa saat menjadi pembicara dalam DBS Asian Insight Conference pekan lalu.

Baca juga: Distribusi Barang dari Ritel Modern ke Warung Kelontong Matikan Bisnis Agen

Saat ini kata dia, setidaknya ada sekitar 3 juta warung kelontong di Indonesia. Namun skala bisnisnya masih usaha mikro dan sulit untuk berkembang pesat.

Warung tak bisa berkembang lantaran tak memiliki akses luas, pemiliknya yang tak punya pengetahuan luas, bahkan kerap disebut buta teknologi.

Untuk alasan yang terakhir, Agung menampiknya. Sebab, banyak pemilik warung yang juga aktif di Facebook atau berkomunikasi via aplikasi Whatsapp.

Dari situ sebenarnya "empunya" warung sudah memiliki modal dasar. Hanya saja kata dia, tak ada aplikasi teknologi yang menyasar para pengusaha warung ini.

"Saya coba bantu salah satu warung, jaga warung, waktu itu masih pakai Excel. Saya coba catat penjualan pakai Excel itu sudah banget. Tiba-tiba ada yang beli 5 orang, tiba-tiba ada yang mau utang. Wow, ini dunia yang baru," kata Agung.

Proyek east ventures yang mendirikan Warung PintarEast Ventures Proyek east ventures yang mendirikan Warung Pintar

Baca juga: Mendag Ingin Pelaku Usaha Warung Kelontong Dapat Fasiltas KUR

Dari sanalah muncul ide untuk membuat Warung Pintar. Berbagai dukungan diberikan mulai dari dengan akses barang yang lebih murah, perangkat elektronik hingga pemanfaatan software guna menunjang usaha.

Satu per satu pemilik warung pun mulai bermitra dengan Warung Pintar sejak November 2017. Kini dalam kurun waktu 2 tahun saja, sudah ada 1.000 Warung Pintar di Jakarta dan sekitarnya.

Dengan dukungan teknologi serta riset yang mengedepankan tiga pilar, yaitu Internet of Things (IoT), big data analytics dan blockchain, pemilik warung merasakan keuntungan.

IoT digunakan untuk meningkatkan akurasi pemasukan data ritel, big data analytics untuk memahami perilaku para pelanggan, serta blockchain untuk menciptakan transparansi.

Upaya untuk mengangkat derajat warung kelontong setidaknya mulai terlihat dari naiknya penghasilan masyarakat yang bergabung dengan Warung Pintar.

"Kalau kita tarik average (rata-rata kenaikan penghasilan) sekitar 40 persen. Kalau lihat beberapa success story yang gila sih ada warung yang tadinya penghasilannya Rp 150.000 per hari, sekarang ada yang Rp 4 juta sehari," kata dia.

Baca juga: Warung Pintar, Kios Masa Kini yang Pakai Software PoS dan Akuntansi

Hingga saat ini, permintaan untuk bergabung dengan Warung Pintar terus muncul. Bahkan pada Desember 2018 lalu kata dia, 12.000 orang meminta gabung menjadi Warung Pintar.

Agung tak menampik Warung Pintar juga bagian dari bisnis, meski begitu ia mengatakan belum punya ambisi untuk jadi unicorn, perusahaan startup dengan valuasi 1 miliar dollar AS.

Bagi Agung, ada hal lain yang lebih membuat ia dan teman-temannya bahagia. Apa itu? Terangkatnya derajat warung kelontong.



Close Ads X