Survei: 74 Persen Konsumen Tak Senang Tarif Ojek Online Naik

Kompas.com - 11/02/2019, 15:45 WIB
Ojek Online yang manggkal di bawah kolong flyover dekat Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).Stanly Ojek Online yang manggkal di bawah kolong flyover dekat Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana kenaikan tarif ojek online (ojol) menuai beragam reaksi. Rencana ini pun diperkirakan bakal berdampak negatif bagi konsumen dan mitra pengemudi.

Hal ini berdasarkan hasil studi yang dilakukan Research Institute of Socioeconomic Development (Rised) mengenai wacana kenaikan tarif ojek online.

Ketua Tim Peneliti Rised Rumayya Batubara mengatakan, survei dilakukan terhadap 2.001 responden yang tersebar di 10 provinsi dan berlangsung selama dua minggu pada Januari 2019.

Berdasarkan hasil survei ini, diketahui sebanyak 45,83 persen konsumen ojek online yang didominasi masyarakat pendapatan rendah mengatakan tarif ojek online sesuai dengan kondisi keuangan mereka. Saat ini, tarif ojek online adalah Rp 2.200 per kilometer.

Baca juga: Kemenhub: Kalau Tarif Ojek Online Rp 3.000 Per Km, Warga Bisa Pilih Transportasi Lain

Akan tetapi, sebanyak 27,99 persen masih menganggap tarif ojek online kemahalan, dan sisanya 26,19 persen mengatakan terlampau murah. Selain itu, lebih dari 70 persen responden menyatakan pula mereka tak senang dengan rencana kenaikan tarif ojek online.

"Jadi kenaikan tarif itu, kita lihat 74 persen konsumen tidak happy dengan kondisi tarif itu. 22 persen mengatakan, tidak mau atau tidak menghendaki adanya tambahan biaya sama sekali, sedangkan 48 persen bersedia, tetapi kurang dari Rp 5.000 per hari," kata Rumayya dalam jumpa pers Jakarta, Senin (11/2/2019).

Dia menjelaskan, studi ini juga mengungkapkan, jarak tempuh rata-rata konsumen ojol sekitar 8,8 kilometer per hari. Sehingga, adanya wacana tarif naik menjadi Rp 3.100 dari Rp 2.200, setelah dihitung menghasilkan Rp 7.920 kenaikan tambahan pengeluaran bagi konsumen.

"7dari 10 konsumen akan menolak ada kenaikan tarif," sebut Rumayya.

Baca juga: Kemenhub Klaim Aturan Ojek Online Tak Ditentang Para Driver

Ia menambahkan, sebanyak 41 persen konsumen menggunakan ojek online untuk perjalanan menuju tempat-tempat transportasi publik serta 71 persen menuju ke sekolah dan kantor.

Bahkan, tak kurang dari 50 persen responden diketahui sudah meninggalkan kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utama karena kehadiran ojek online.

"Artinya ini (ojek online) jadi supporting system untuk alat transportasi yang sudah ada kayak KRL, TransJakarta. Ojol sudah menjadi hub. Bayangkan kalau tarifnya naik, kalau dia sudah nyaman dengan tarif sebelumnya, bisa kembali lagi menggunakan transportasi pribadi," terang Rumayya.





Close Ads X