Sejak Awal 2019, 231 Pinjaman Online Ilegal Diblokir

Kompas.com - 13/02/2019, 17:22 WIB
Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dan Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing di Jakarta, Rsbu Mutia FauziaJuru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dan Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing di Jakarta, Rsbu

JAKARTA, KOMPAS.com - Satgas Waspada Investasi sejak awal tahun 2019 hingga pertengahan Februari ini telah memblokir 231 layanan teknologi keuangan ( fintech) peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online ilegal.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengatakan, proses pemblokiran dilakukan melalui Kementerian Kominkasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Dia menjelaskan, jika nantinya ditemukan tindak pidana yang dilakukan oleh 231 fintech ilegal tersebut, Satgas bersama dengan Kominfo akan mengajukan aduan ke Bareskrim Polri.

"Kita sampaikan ke Polri untuk penegakan hukum kalau sudah masuk dugaan tindak pidana," ujar Tongam ketika memberikan paparan di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Baca juga: Ada 28 Pinjaman Online Diadukan ke Asosiasi, 2 Terdaftar di OJK

Selain dengan Bareskrim dan Kemenkominfo, Satgas juga berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengimbau penyedia jasa fintech sistem pembayaran untuk tidak bekerja sama dengan pinjaman online ilegal.

Selain itu, BI juga diminta menyurati entitas perbankan agar tidak memberikan izin pembukaan rekening untuk pelaku fintech ilegal.

"Sementara untuk yang sudah terlanjur masuk bank kami minta tutup rekeningnya," ujar Tongam.

Baca juga: Ada Fintech Pinjaman Online Legal Nakal, Laporan ke Alamat Berikut

Sebagai catatan, tahun lalu OJK telah memblokir 404 fintech P2P lending ilegal. Jika diakumulasikan, OJK telah memblokir 635 fintech kerja sama dengan Kemenkominfo dan Google Indonesia.

OJK mengaku kepayahan dalam melakukan pemblokiran fintech ilegal yang terus menjamur karena mudahnya para pelaku menciptakan aplikasi dan memasarkan aplikasi tersebut melalui Google Store.

"Kita sudah kerja sama dengan Kemenkominfo dan Google untuk memitigasi jangan sampai pertumbuhannya sangat besar, karena pembuatan aplikasi sangat tidak bisa diatasi, sangat sulit, bahkan Google pun sulit untuk deteksi ini," jelas Tongam.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X